Edi mengampu tugas untuk membuat Kaskus bertahan di industri digital sekaligus membuatnya relevan dengan masyarakat dunia maya saat ini. Edi juga diminta untuk membangun perusahaan-perusahaan kecil seperti Garasi.id yang pasarnya merupakan pengembangan dari basis pengguna Kaskus.
Edi mengakui bahwa industri media kini sangat sengit dengan maraknya sosial media seperti Facebook, Twitter maupun Instagram. Banyak orang Indonesia cukup "cerewet" di media sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menonjolkan perbedaan Kaskus dari platform lain, baik itu media atau pun ecommerce, Edi menerangkan bahwa dia berniat membawa desain baru untuk tampilan Kaskus.
Konten video akan menjadi fokus terbesar tahun ini menurut Edi. Perusahaan akan membuat program original yang disiarkan secara berkala. Bentuk video dipilih karena konten berbentuk tulisan akan diperkaya dengan program konten kreator.
Lihat juga:YouTube Berlakukan Aturan Monetisasi Konten |
Video tak berbasis YouTube
Edi mengatakan bahwa Kaskus tidak akan meletakkan semua video buatannya sendiri di YouTube. Pasalnya, perusahaan di bawah GDP Venture tersebut ingin memiliki kontrol penuh atas konten yang dimilikinya.
"Untuk video kami tidak akan menggunakan YouTube secara mayoritas karena ingin memiliki kontrol utama atas video yang naik. Kami gunakan platform yang disewa dari luar," paparnya.
Kendati demikian, YouTube masih akan digunakan untuk distribusi meski tidak semua konten asli Kaskus akan ada di sana. Hal ini dilakukan meski Edi memahami bahwa memiliki platform video sendiri tidak murah.
Konten video original Kaskus berbentuk talkshow, livestreaming, dan lain sebagainya. Saat ini, Kaskus memiliki program video The Lounge dan Terekam yang diunggah pengguna sendiri.
Sementara itu, Kaskus saat ini mengklaim telah memiliki 11 ribu konten kreator dan 4 juta pengguna aktif. Setidaknya 10 ribu thread diciptakan setiap hari dalam platform lokal ini.
Edi memiliki latar belakang selama 20 tahun di industri media digital. Dia bergabung dengan Kaskus per November 2017 sebagai Chief Operating Officer.
Dia mundur dari bisnis media pada Desember 2015 untuk membangun ProPS yang bergerak di bidang periklanan digital dan BrandMedia ID di bidang brand media dan content marketing. (age)