Skandal Facebook, Mark Zuckerberg Akan Bertemu Parlemen Eropa

AFP, CNN Indonesia | Kamis, 17/05/2018 05:47 WIB
Skandal Facebook, Mark Zuckerberg Akan Bertemu Parlemen Eropa Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg bakal hadiri pertemuan tertutup dengan anggota Parlemen Eropa untuk menjawab pertanyaan terkait skandal Cambridge Analytica. (Foto: REUTERS/Aaron P. Bernstein)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg bakal hadiri pertemuan tertutup dengan anggota Parlemen Eropa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di belakang skandal Cambridge Analytica.

Ungkapan itu disampaikan seorang pejabat tinggi Parlemen Eropa, pada Rabu (16/5) seperti dikutip dari AFP.

Dalam sebuah pernyataan, Antonio Tajani, pemimpin Parlemen mengungkapkan anggota parlemen senior telah "setuju bahwa Mark Zuckerberg harus datang untuk mengklarifikasi masalah yang terkait dengan penggunaan data pribadi dalam pertemuan dengan perwakilan Parlemen Eropa.


Pertemuan akan berlangsung "sesegera mungkin, semoga bisa berlangsung minggu depan," kata Tajani.


Pertemuan tertutup dengan wakil paling senior parlemen tersebut membuat marah anggota parleman Eropa lainnya yang berharap akan pertemuan terbuka dengan Zuckerberg, sembari merujuk pada interogasi 10 jam di Kongres AS bulan lalu.

"Saya tidak akan menghadiri pertemuan dengan Mr Zuckerberg jika itu diadakan di balik pintu tertutup. Itu harus menjadi audiensi publik - mengapa bukan Facebook Live?" ujar anggota parlemen Eropa asal Belgia, Guy Verhofstadt melalui Twitter-nya.

Zuckerberg juga dikonfirmasi akan mengunjungi Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris pada 23 Mei, bersama dengan para pemimpin di bidang teknologi lainnya, menurut kepresidenan Prancis.

Tajani telah mengundang Zuckerberg, dan mengatakan 2,7 juta warga Uni Eropa yang terkena dampak skandal berbagi data layak mendapat penjelasan lengkap.


Dalam sebuah pernyataan, Facebook mengatakan menyambut kesempatan baik untuk bertemu anggota parlemen dan "menghargai kesempatan untuk berdialog, untuk mendengarkan pandangan mereka dan menunjukkan langkah-langkah yang kami ambil untuk lebih melindungi privasi banyak orang".

Kunjungan itu dilakukan saat UE memperkenalkan aturan ketat perlindungan data baru akhir bulan ini, yang menurut Facebook akan sesuai.

Sebelumnya, Facebook mengakui awal bulan ini bahwa 87 juta pengguna mungkin memiliki data mereka dibajak oleh konsultan Inggris Cambridge Analytica, yang bekerja untuk Presiden AS Donald Trump selama kampanye tahun 2016.

General Data Protection Regulation atau Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR) Uni Eropa, yang mulai berlaku pada 25 Mei, bertujuan untuk memberi pengguna lebih banyak kendali atas bagaimana informasi pribadi mereka disimpan dan digunakan secara online, dengan denda besar bagi perusahaan yang melanggar peraturan.


Zuckerberg, yang telah berulang kali meminta maaf atas pelanggaran kebocoran data, mengatakan kepada Kongres AS pada bulan April bahwa aturan UE yang lebih ketat bisa berfungsi sebagai model kasar secara global.

"Pengguna Facebook berhak mendapatkan jawaban yang tepat atas apa yang telah terjadi pada data mereka. Kami akan terus membela hak mereka," kata anggota parlemen Eropa, Manfred Weber dari Jerman, salah satu pemimpin kelompok parlemen yang akan bertemu Zuckerberg. (rah/rah)