Cerita Twitter Bidik 6,4 Juta Akun Mencurigakan

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Selasa, 22/05/2018 15:09 WIB
Cerita Twitter Bidik 6,4 Juta Akun Mencurigakan Twitter mengidentifikasi lebih dari 6,4 juta akun mencurigakan secara global per minggu. Perusahaan itu juga memfokuskan untuk melawan hoaks saat ini. (Foto: AFP PHOTO / DAMIEN MEYER)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jejaring media sosial macam Facebook, Twitter dan Google meningkatkan kewaspadaan mereka untuk membasmi konten berisi hoaks, propaganda atau berita palsu dan bot.

Hal itu ditingkatkan terutama usai kemenangan Presiden Donald Trump pada 2016, yang sebelumnya 'bergerilya' melalui media sosial.

Twitter mengakui bahwa hoaks menjadi perhatian penting perusahaan. Perusahaan yang dipimpin Jack Dorsey ini memfokuskan pada identifikasi dan penangguhan akun yang melanggar kebijakan spam.


Pada awal Maret lalu, Dorsey mengakui bahwa platformnya menjadi wadah hoaks, teori konspirasi, misinformasi, berita palsu, dan bot terkait Rusia yang menyebar melalui jaringannya.

Kelompok politik ekstremis, termasuk yang disebut sebagai alt-right, diduga juga bergantung pada Twitter untuk merekrut pengikut dan menyebar konten negatif.


"Kami telah mengembangkan teknik-teknik baru untuk mengidentifikasi otomatisasi berbahaya," terang Juru Bicara Twitter Asia Pasifik pada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu. 

Perusahaan micro-blogging tersebut juga terus mendeteksi dan memblokir 523 ribu akun mencurigakan secara global.

"Pada Desember 2017 lalu, sistem kami mengidentifikasi lebih dari 6,4 juta akun mencurigakan secara global per minggu," imbuhnya.

Penyebaran Berita Palsu

Sebuah studi yang dipublikasikan oleh Science pada Maret lalu, menemukan bahwa berita palsu, rumor dan konten negatif lainnya menyebar begitu hebatnya di Twitter. Namun, hal itu tidak terjadi pada berita yang akurat.

Penelitian itu mendalami soal cerita palsu dan terverifikasi sejak 2006-2017 yang disebarkan di Twitter. Data terdiri dari lebih dari 126.000 cerita yang dicuitkan oleh lebih dari 3 juta orang, lebih dari 4,5 juta kali.

Memberdayakan enam organisasi pengecek fakta, Soroush Vosoughi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan kawan-kawannya menjalankan penelitian.


"Kepalsuan menyebar secara signifikan lebih jauh, lebih cepat, lebih dalam, dan lebih luas daripada kebenaran di semua kategori informasi," demikian tulis para peneliti.

Alasan meluas dan cepatnya penyebaran menurut penelitian disebabkan oleh lebih anehnya berita itu dibandingkan dengan berita yang terverifikasi benar.

Kendati demikian, para peneliti menemukan bahwa robot sebenarnya mempercepat penyebaran berita benar pada tingkat yang sama dengan berita palsu. Artinya, berita palsu menyebar lebih kencang karena faktor manusia, bukan robot. (asa)