Cara Kaskus 'Sundul Gan' Lawan Hoaks di Tahun Politik

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Selasa, 22/05/2018 16:05 WIB
Cara Kaskus 'Sundul Gan' Lawan Hoaks di Tahun Politik Kaskus mengerahkan teknologi kecerdasan buatan untuk lawan hoaks di tahun politik. (Foto: CNN Indonesia/Kustin Ayuwuragil)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendiri Kaskus Andrew Darwis menyadari pelbagai thread di forum itu mulai ramai dengan pembahasan politik pada tahun ini.

Untuk itu menurut Andrew, Kaskus mengembangkan mesin pembelajaran berbasis kecerdasan buatan untuk memerangi hoaks dan penyebaran berita palsu.

Dia menuturkan kecerdasan buatan tersebut sangat penting untuk membantu para moderator komunitas memonitor konten di forum yang terkenal dengan pelbagai kalimat, macam: "Sundul  Gan".



"AI (Artificial Intelligent) kita gunakan untuk memberantas hoaks, membantu kita untuk lihat misalnya ada seseorang yang copy paste dari tempat lain ... Mana yang palsu mana yang bener, apalagi kan tahun depan Pemilu juga," kata dia pada April lalu.

AI bekerja dengan melakukan fast checking ke situs-situs berita yang dinilai memiliki kredibilitas. Kebenaran dalam konten di Kaskus akan dibandingkan kemudian diberi peringkat berupa berapa persentase kebenaran berita.


Dari sana, moderator bisa menimbang apakah akan menghapus atau membiarkan sebuah konten di komunitasnya. Namun sayangnya, kecerdasan buatan ini memang baru bisa digunakan secara internal.

AI Kaskus juga baru mampu melakukan penilaian di teks. Bukan pada gambar yang seringkali menyebar melalui WhatsApp.

"Kita sudah jalan tapi masih internal, jadi bukan buat user. Kita masih harus olah lagi," kata Andrew.

Walaupun demikian, Andrew juga mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya belum pernah memblokir konten di forum tersebut. AI yang dimiliki Kaskus sendiri dikembangkan oleh GDV Venture, induk perusahaan tersebut.

Gerakan Lawan Hoaks

Sementara itu, perlawanan terhadap konten negatif di Indonesia makin menguat. Terbaru adalah lahirnya gerakan nasional literasi digital yang didorong oleh 37 organisasi berbeda pada akhir Desember lalu.

Gerakan nasional tersebut diberi nama #SiBerkreasi. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara membuka peluncuran gerakan ini di kompleks Gedung Joang '45, Menteng, Jakarta.


Kementerian yang dipimpin Rudiantara jadi salah satu organisasi yag mendukung gerakan ini, bersama Kemensetneg, Kemendikbud, Kemendikristi, Bekraf, KPI, dan KPAI. Dari pihak non-pemerintah terdapat komunitas seperti Mafindo, ICT Watch, media, lembaga riset, hingga akademisi.

"Indonesia termasuk negara yang belum punya kebijakan komprehensif tentang literasi digital di antara negara G20. Gapnya terlalu tinggi. Itu yang menjelaskan kenapa kita sangat rentan terhadap hoax, bullying, dan radikalisme digital," kata Dedy Permadi, Ketua Gerakan #Siberkreasi. (asa)