Lebih Menguntungkan, Fintech Diprediksi Kerek Valuasi Gojek

Eka Santhika, CNN Indonesia | Selasa, 05/06/2018 20:43 WIB
Lebih Menguntungkan, Fintech Diprediksi Kerek Valuasi Gojek Pengamat menilai valuasi Gojek bisa meningkat jika serius menggarap layanan fintech. (Foto: REUTERS/Beawiharta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keseriusan Gojek yang mulai merambah bisnis financial technology (fintech) diproyeksikan bisa membantu mendongkrak valasi perusahaan. Hal itu diutarakan pengamat ekonomi INDEF Bhima Yudistira yang memperkirakan valuasinyan bisa meningkat hingga tiga kali lipat.

"Kalau dia beralih ke fintech [...] itu ada kemungkinan valuasinya dobel," jelas Bhima Yudistira, Pengamat Ekonomi INDEF, dalam konferensi pers di bilangan Jakarta Selatan, Selasa (5/6).

Namun, peningkatan valuasi menurut Bima bisa terjadi jika Gojek fokus mengembangkan bisnis fintech bukan sekedar alat pembayaran tapi bisa digunakan untuk membayar kredit hingga jasa keuangan lainnya.


Saat ini, valuasi Gojek mencapai hampir Rp54 triliun. Valuasi itu didapat saat Gojek masih fokus mengembangkan bisnis di bidang transportasi daring dan turunannya.

Bhima memperkirakan angka tersebut bisa lebih besar hingga melampaui Rp100 triliun jika Gojek menggarap bisnis fintech.

"Sekarang aja uda unicorn. Ada kemungkinan valuasinya sampai Rp100 triliun itu perkiraan paling sederhana," ungkapnya.

Besarnya nilai bisnis fintech jadi alasan layanan itu mempercepat valuasi perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makariem. Menurut Bhisma secara sederhana hal ini bisa dilihat dari potensi pengguna.

Pasalnya, jumlah masyarakat di Indonesia yang belum terjangkau layanan bank jauh lebih besar dari mereka yang bisa dilayani oleh layanan transportasi. Menurutnya, diperkirakan saat ini ada 180 juta penduduk Indonesia yang masih belum tersentuh layanan perbankan.

Selain itu, menurutnya margin keuntungan yang dikantongi dari layanan fintech juga jauh lebih besar dari transportasi daring.

"Transportasi online banyak cost [biaya], fintech ngga perlu kayak gitu," ucapnya.

"sementara kalau jualan fintech, marginnya lebih besar."

Selain menelan biaya, saat ini baik Gojek maupun Grab sebagai perusahaan transportasi daring belum mengantongi keuntungan. Kedua perusahaan masih mensubsidi biaya operasional dengan cara 'membakar uang' yang diperoleh dari investor. (eks/evn)