"Kalau dia beralih ke fintech [...] itu ada kemungkinan valuasinya dobel," jelas Bhima Yudistira, Pengamat Ekonomi INDEF, dalam konferensi pers di bilangan Jakarta Selatan, Selasa (5/6).
Namun, peningkatan valuasi menurut Bima bisa terjadi jika Gojek fokus mengembangkan bisnis fintech bukan sekedar alat pembayaran tapi bisa digunakan untuk membayar kredit hingga jasa keuangan lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bhima memperkirakan angka tersebut bisa lebih besar hingga melampaui Rp100 triliun jika Gojek menggarap bisnis fintech.
Besarnya nilai bisnis fintech jadi alasan layanan itu mempercepat valuasi perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makariem. Menurut Bhisma secara sederhana hal ini bisa dilihat dari potensi pengguna.
Selain itu, menurutnya margin keuntungan yang dikantongi dari layanan fintech juga jauh lebih besar dari transportasi daring.
"Transportasi online banyak cost [biaya], fintech ngga perlu kayak gitu," ucapnya.
"sementara kalau jualan fintech, marginnya lebih besar."
Selain menelan biaya, saat ini baik Gojek maupun Grab sebagai perusahaan transportasi daring belum mengantongi keuntungan. Kedua perusahaan masih mensubsidi biaya operasional dengan cara 'membakar uang' yang diperoleh dari investor. (eks/evn)