Hati-hati Beli Perangkat Pintar untuk Anak

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Senin, 20/11/2017 17:32 WIB
Perangkat cerdas yang dirancang dengan tingkat keamanan yang buruk malah bisa membahayakan anak alih-alih membantu orang tua untuk mengawasi mereka. Ilustrasi smartwatch. Perangkat cerdas dengan tingkat keamanan rendah bisa mengancam keamanan pengguna alih-alih memberi manfaat (dok. REUTERS/Toru Hanai)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perangkat cerdas kini bertebaran, mulai dari jam pintar hingga speaker. Tapi pengguna baiknya berhati-hati ketika membeli perangkat-perangkat cerdas yang terhubung ke internet ini.

Sebab, jika tak pandai memilih, bisa jadi perangkat pintar ini malah jadi senjata makan tuan. Sebab, perangkat pintar tanpa enkripsi (perlindungan data dengan kode rahasia acak) malah bisa membuat perangkat mudah diretas dan disalahgunakan penjahat siber.

Hal ini seperti terjadi di Jerman. Pemerintah Jerman baru saja membuat aturan yang melarang keberadaan arloji pintar untuk anak-anak. Pejabat setempat menganggap jam tangan pintar itu justru berpotensi membahayakan anak-anak.


Badan telekomunikasi Jerman, Bundesnetzagentur atau Federal Network Agency, resmi melarang penjualan jam tangan pintar untuk anak-anak. Mereka bahkan meminta para orang tua menghancurkan jam tangan yang sudah telanjur mereka miliki.

Jam tangan pintar tersebut bisa mengirim dan menerima data tanpa enkripsi. Hal itu membuat perangkat amat rentas diretas atau disulap menjadi alat bantu mata-mata.

"Pembajakan data pribadi sangat mungkin terjadi pada perangkat pintar dengan tingkat keamanan rendah," jelas Ken Munro, ahli keamanan dari Pen Test Partners, seperti dikutip BBC, pekan lalu. 

"Hal ini menjadi perhatian serius ketika digunakan untuk jam yang bisa mendeteksi lokasi anak-anak lewat GPS," tambahnya.

Melalui aplikasi, orang tua bisa mengetahui berbagai macam kegiatan sang anak dari kejauhan. Lokasi pengguna arloji serta suara di sekitarnya bisa diketahui oleh orang tua dengan mudah.

Selain itu, jam tangan cerdas ini memang dilengkapi kartu SIM dan kemampuan menelepon yang terbatas. Kendali atas jam tangan cerdas bukan berada di anak-anak sebagai pengguna, melainkan di tangan para orang tua.

Tanpa adanya enkripsi, teknik peretasan sederhana bisa mengambil alih kendali perangkat itu dari tangan orang tua. Hal inilah yang membuat otoritas Jerman kesal.

"Melalui sebuah aplikasi, orang tua bisa memanfaatkan jam tangan anak-anak ini untuk mendengarkan lingkungan sekitar dan bisa dianggap sebagai sistem transmisi ilegal," ujar Jochen Homann, presiden Federal Network Agency, seperti dikutip dari Raw Story

Laporan The Verge menyebutkan pemerintah Jerman sebetulnya sudah diperingatkan perihal potensi bahaya dari arloji pintar untuk anak-anak. Lembaga konsumen Eropa pernah mengumumkan kemampuan mendengar di arloji tersebut berpotensi membahayakan pada 2016 lalu. Namun pengumuman itu diabaikan hingga munculnya keputusan melarang peredaran arloji pintar untuk anak-anak itu. (eks/eks)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK