Australia Gugat Facebook Soal Kebocoran Data

JNP, CNN Indonesia | Rabu, 11/07/2018 22:55 WIB
Australia Gugat Facebook Soal Kebocoran Data Facebook akan digugat di Australia terkait kebocoran data 311 ribu penggunanya. (dok. REUTERS/Dado Ruvic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Skandal kebocoran data 87 juta pengguna Facebook yang melibatkan Cambridge Analytica hingga kini masih berlanjut. Di Australia, 311 ribu pengguna Facebook turut terimbas penyalahgunaan data tanpa seizin pemilik akun.

Mewakili 311 ribu pengguna Facebook, badan pendanaan litigasi IMF Bentham berencana mempersiapkan gugatan ke Facebook di Australia.

Sebagai tindak lanjut, pihak IMF Bentham mengatakan saat ini sudah mengadukan hal ini ke Komisi Informasi Australia dengan dugaan pelanggaran undang-undang privasi terkait pembagian data. Komisi Informasi Australia merupakan regulator yang mengatur privasi di ranah media sosial di Australia.


Sejak mengungkapkan adanya kebocoran data pengguna pada April lalu, Komisi Informasi Australia memulai investigasi.

IMF Bentham berencana melakukan gugatan mewakili para korban (class action) untuk mencari kompensasi bagi para pengguna, tergantung tanggapan dari regulator menyoal kasuskebocoran data ini.

Juru bicara Facebook memilih bungkam menanggapi tuntutan IMF Bentham. Meski demikian, juru bicara Facebook menyatakan pihaknya akan kooperatif terhadap investigasi yang tengah ditempuh regulator.

Nathan Landis, investment manager IMF Bentham mengatakan pihaknya sudah memiliki penggugat hebat untuk menindaklanjuti gugatan kepada Facebook. Kendati demikian penggugat saat ini masih merahasiakan identitasnya.

IMF Bentham mengatakan butuh waktu untuk memutuskan hendak menggugat Facebook atau tidak. Hal ini lantaran Komisi Informasi Australia biasanya menutup penyelidikan dalam waktu setahun. Demikian dilaporkan Reuters.

Facebook pada April lalu mengakui bahwa lebihd ari 87 juta data penggunanya disalahgunakan oleh perusahaan konsultan politik Cambridge Analytica lewat aplikasi kuis kepribadian. Akibat skandal ini, CEO Facebook Mark Zuckerberg dicecar oleh senat AS.

Di tengah serangkaian investigasi dan tuntutan di sejumlah negara, Cambridge Analytica menyatakan diri bangkrut pada Mei lalu. Sebelumnya, konsultan yang berbasis di London ini mengklaim pihaknya telah menghapus seluruh data pengguna dan tidak menggunakannya saat kampanye Pilpres AS 2016 yang dimenangan Donald Trump. (evn)