Pengamat Minta Aplikator Tahu Diri Sikapi Rencana Demo Ojol

Agnes Savithri, CNN Indonesia | Rabu, 25/07/2018 11:18 WIB
Pengamat Minta Aplikator Tahu Diri Sikapi Rencana Demo Ojol Pengamat aplikator turun tangan menyikapi rencana demonstrasi saat pembukaan Asian Games 2018. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana Gerakan Aksi Roda Dua (Garda) untuk tetap menggelar aksi demonstrasi saat pembukaan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Jakarta dan Gelora Jakabaring Sport City, Palembang lantaran pemerintah belum membuat payung hukum ojek online dan batasan tarif minimal untuk setiap perjalanan.

Pengamat transportasi Universitas Katolik Soegijapranata, Djoko Setijowarno meminta pengemudi memikirkan kembali rencana demo tersebut. Pasalnya, kemampuan Indonesia dalam menyelenggarakan perhelatan olahraga skala internasional akan terukur.

Djoko tak memungkiri jika masalah terkait demonstrasi ojek online menyangkut sejumlah pihak, mulai dari perusahaan aplikator, Kementerian Perhubungan hingga Kementerian Komunikasi dan Informatika.


"Aplikator harus tahu diri. Pihak aplikator sudah untung besar. Seharusnya mau berbagi keuntungan dengan pihak driver," jelasnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (24/7).

Djoko mengungkapkan peran aplikator dalam hal ini sebaiknya bukan sebatas menjadi sponsor perhelatan Asian Games saja sehingga mengesampingkan urusan para pengemudinya.

Ia mengungkapkan bisnis perusahaan ride hailing seperti Grab dan Gojek sejatinya tak bisa berkembang tanpa campur tangan pengemudi di lapangan.

"Driver adalah ujung tombak bagi aplikator untuk meraup keuntungan yang cukup besar," jelas Djoko.

Dia pun meminta Kemenkominfo harus memikirkan perangkat untuk mengawasi sistem IT aplikator.

Sebelumnya, rencana aksi demonstrasi tersebut dikritisi banyak pihak lantaran dinilai akan mempermalukan bangsa sendiri di mata dunia.


Anggota Presidium Gerakan Aksi Roda Dua (Garda) Igun Wicaksono yang menanggapi hal tersebut justru tak mempermasalahkan. Namun sebaliknya jika tak mengambil tindakan tegas akan menjadi blunder bagi pemerintahan.

"Maksud dari blunder ini akan terbentuk opini bahwa negara dan pemerintah tidak mampu selesaikan akar masalah yang ada di perusahaan aplikasi sponsor Asian Games. Karena tuntutan ojek online sudah disampaikan jauh hari sebelum acara pembukaan," kata Igun kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Selasa (24/7).


Menurut Igun, para pengemudi ojek online yang merupakan peserta aksi demonstrasi sampai kini masih menunggu mediasi antara perusahaan aplikasi dengan pemerintah sebelum pembukaan Asian Games 2018. (age/evn)