Kepala Observatorium Bosscha Premana Premadi menjelaskan, gerhana bulan pada Sabtu dini hari nanti memiliki perbedaan dengan fenomena serupa pada akhir Januari lalu.
Premana menjelaskan seluruh rangkaian gerhana bulan total akhir Januari lalu dapat teramati di seluruh Indonesia. Sementara yang akan terjadi dini hari nanti tidak dapat disaksikan dari sebagian wilayah Indonesia timur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada posisi ini, gerhana bulan akan berlangsung selama 1 jam 42 menit 57 detik (durasi terpanjang abad ini). Durasi tersebut lebih lama daripada gerhana bulan total tanggal 31 Januari 2018 di mana saat itu bulan berada pada posisi terdekatnya dengan bumi sehingga ukuran tampak bulan terlihat lebih besar," kata Premana kepada CNNIndonesia.com, Jumat (27/7).
"Warna merah ini muncul karena cahaya matahari dihamburkan oleh debu dan molekul di atmosfer Bumi. Warna biru akan terhamburkan lebih kuat, sedangkan warna merah dapat lolos melewati atmosfer Bumi dan sampai ke permukaan bulan. Bulan pun tampak berwarna kemerahan," jelasnya.
Pada pukul 05.19 WIB, bulan akan meninggalkan umbra Bumi menuju bagian penumbra. Saat itu, bulan akan kembali terlihat sebagai purnama yang redup karena pengaruh bayangan penumbra bumi. Baru pada pukul 06.28 WIB di saat hari sudah terang, bulan tidak lagi berada di dalam bayangan bumi dan gerhana bulan benar-benar berakhir. Bulan akan kembali tampak seperti purnama yang terang.
Oposisi Mars
Fenomena lain yang terjadi pada rentang waktu yang sama dengan gerhana bulan total yakni oposisi Mars.
Oposisi adalah posisi planet luar yang berlawanan arah 180 derajat dengan matahari dilihat dari Bumi yang disebabkan oleh orbit Mars mengelilingi matahari yang hampir sebidang dengan orbit Bumi.
Pada Jumat (27/7), Mars berada di titik terdekat dengan matahari atau disebut perihelion sehingga ukurannya tampak paling besar. Meski ukuran Mars tidak berubah secara signifikan, namun planet merah ini akan terliat seperti sebuah titik merah yang lebih terang di langit saat dilihat menggunakan mata telanjang.
Namun, jika menggunakan bantuan alat seperti teleskop, maka piringan Mars akan tampak lebih besar hampir dua kali lipat daripada saat Mars berada di titik terjauhnya. (hyg/evn)