Beda Gerhana Bulan Total Sabtu Dini Hari dan 31 Januari Lalu

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 27/07/2018 15:44 WIB
Kepala Observatorium Bosscha Premana Premadi menjelaskan perbedaan gerhana bulan yang terjadi Sabtu (28/7) dini hari dengan fenomena serupa 31 Januari lalu. Sekuen fase gerhana bulan total terlihat di Jakarta, Rabu (31/1). (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Bandung, CNN Indonesia -- Langit Indonesia akan kembali diterangi gerhana bulan total pada Sabtu (28/7) dini hari nanti. Bukan hanya gerhana, fenomena kali ini juga diiringi dengan oposisi Mars dan hujan meteor.

Kepala Observatorium Bosscha Premana Premadi menjelaskan, gerhana bulan pada Sabtu dini hari nanti memiliki perbedaan dengan fenomena serupa pada akhir Januari lalu.

Premana menjelaskan seluruh rangkaian gerhana bulan total akhir Januari lalu dapat teramati di seluruh Indonesia. Sementara yang akan terjadi dini hari nanti tidak dapat disaksikan dari sebagian wilayah Indonesia timur.


Pada 27 Juli 2018 pukul 00.44 WIB, posisi bulan berada pada titik terjauhnya dari Bumi (apogee) sehinga ukurannya tampak lebih kecil.

"Pada posisi ini, gerhana bulan akan berlangsung selama 1 jam 42 menit 57 detik (durasi terpanjang abad ini). Durasi tersebut lebih lama daripada gerhana bulan total tanggal 31 Januari 2018 di mana saat itu bulan berada pada posisi terdekatnya dengan bumi sehingga ukuran tampak bulan terlihat lebih besar," kata Premana kepada CNNIndonesia.com, Jumat (27/7).

Sementara pada Sabtu pukul 01.24 WIB, bulan akan mulai memasuki bayangan umbra Bumi. Bayangan hitam akan mulai muncul di permukaan bulan sehingga purnama akan tampak berubah bentuk menjadi bulan setengah, bulan sabit, dan pada puncaknya bulan tampak kemerahan pukul 02.30-0413 WIB.

"Warna merah ini muncul karena cahaya matahari dihamburkan oleh debu dan molekul di atmosfer Bumi. Warna biru akan terhamburkan lebih kuat, sedangkan warna merah dapat lolos melewati atmosfer Bumi dan sampai ke permukaan bulan. Bulan pun tampak berwarna kemerahan," jelasnya.

Namun demikian, saat puncak gerhana warna bulan tidak selalu sama. Bulan dapat berwarna merah-jingga, merah bata, merah kecoklatan, hingga merah gelap. Perbedaan warna ini bergantung pada banyaknya kandungan uap air, polutan udara hasil pembakaran atau asap pabrik/kendaraan bermotor, debu, dan abu letusan gunung berapi. Bulan akan tampak semakin gelap seiring dengan makin banyaknya kandungan material.

Pada pukul 05.19 WIB, bulan akan meninggalkan umbra Bumi menuju bagian penumbra. Saat itu, bulan akan kembali terlihat sebagai purnama yang redup karena pengaruh bayangan penumbra bumi. Baru pada pukul 06.28 WIB di saat hari sudah terang, bulan tidak lagi berada di dalam bayangan bumi dan gerhana bulan benar-benar berakhir. Bulan akan kembali tampak seperti purnama yang terang.

Oposisi Mars

Fenomena lain yang terjadi pada rentang waktu yang sama dengan gerhana bulan total yakni oposisi Mars.

Oposisi adalah posisi planet luar yang berlawanan arah 180 derajat dengan matahari dilihat dari Bumi yang disebabkan oleh orbit Mars mengelilingi matahari yang hampir sebidang dengan orbit Bumi.

"Oposisi Mars terjadi setiap 26 bulan.  Selain konfigurasinya, orbit planet yang tidak berbentuk lingkaran sempurna (elips) menyebabkan adanya titik terdekat dan terjauh dari matahari," jelasnya.

Pada Jumat (27/7), Mars berada di titik terdekat dengan matahari atau disebut perihelion sehingga ukurannya tampak paling besar. Meski ukuran Mars tidak berubah secara signifikan, namun planet merah ini akan terliat seperti sebuah titik merah yang lebih terang di langit saat dilihat menggunakan mata telanjang.

Namun, jika menggunakan bantuan alat seperti teleskop, maka piringan Mars akan tampak lebih besar hampir dua kali lipat daripada saat Mars berada di titik terjauhnya. (hyg/evn)