Puncak Kemarau Bayangi Asian Games Palembang-Jakarta

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Senin, 30/07/2018 11:36 WIB
BMKG memprediksi puncak kemarau akan terjadi pada Juli hingga September. Ilustrasi kemarau. (Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pesta olahraga Asian Games bakal diwarnai puncak musim kemarau serta potensi kebakaran hutan dan lahan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak kemarau tahun ini akan terjadi pada Juli-September.

Untuk mencegah kemungkinan adanya titik api yang meluas, BMKG dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan meningkatkan kelembaban lahan gambut. Pada periode mingguan, BMKG akan mengeluarkan prediksi curah hujan kelembaban udara dan kecepatan angin hingga melihat tingkat hot spot di lapangan.


"Jika sudah 50 persen, maka masuk kategori membahayakan dan mudah terbakar. Saya mengusulkan adanya hujan buatan yang efektif dilakukan karena ada kiriman awan dari Filipina," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan resmi.

Senada, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengungkapkan pihaknya melakukan monitoring langsung ke Kalimantan Tengah, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau sebagai daerah yang rawan dilanda kebakaran hutan di saat musim kemarau.

"Dari pengalaman selama ini, manajemen penanggulangan kebakaran hutan dan lahan sudah lebih tertata," imbuhnya.

Berdasarkan pengamatan Badan Restorasi Gambut (BRG) pada pertengahan Juli selama dua pekan memperlihatkan adanya variasi permkaan air pada gambut dari kurang dari 0,5 meter hingga 1,5 meter. Sementara kondisi kelembaban gambut yang masih diterima adalah tinggi permukaan air kurang dari 0,5 meter.

Jika permukaan melampaui 0,5 hingga 1,4 meter di bawah gambut gambut menandakan kelembabab mulai berkurang, bahkan tinggal 20 hingga 30 persen.

Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead memastikan pihaknya dibantu masyarakat akan mempersiapkan sekat-sekat air untuk menjaga kelembaban gambut dan menekan potensi kebakaran. (evn)