Menurut Kepala Stasiun Geofisika Klas I Bandung BMKG, Toni Agus Wijaya, fenomena ini merupakan fenomena yang umum terjadi pada saat terjadi musim kemarau.
"Suhu udara pada sore menjelang malam hari hingga pagi hari, relatif dingin sedangkan pada siang hari terasa panas karena sedikitnya pembentukan awan-awan hujan," kata Toni, Jumat (6/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, menurut Tony udara dingin yang dirasakan warga Bandung belakangan ini belum sedingin 40 tahun lalu. Di mana suhu di Kota Bandung mencapai 11,2 derajat celcius.
Netizen pun mencuitkan perihal udara yang lebih dingin dari biasanya ini di Bandung dan sekitarnya.
[Gambas:Twitter]
[Gambas:Twitter]
Akibat angin pasat
Toni menjelaskan, musim kemarau dengan udara dingin ini terjadi karena angin pasat tenggara atau timur yang bertiup dari Benua Australia.
Pada saat terjadi musim kemarau di wilayah Indonesia khususnya Jawa barat, di wilayah Benua Australia sedang terjadi musim dingin terutama dengan puncak musim dingan terjadi di antara bulan Juli, Agustus, September.
Pada periode musim kemarau, lanjut dia, karakteristik udaranya adalah dingin kering, sehingga perlu untuk tetap menjaga kondisi badan dari kondisi cuaca seperti ini.
"Salah satunya dengan banyak mengkonsumsi buah-buah dan sayur-sayuran," tuturnya.
Sementara dari pengamatan cuaca, kondisi sekarang sedang terjadi Taipun Maria di Utara Khatulistiwa tepatnya di sebelah timur laut Philipina sehingga kondisi angin yang melewati Jawa Barat relatif kencang dengan kecepatan berkisaran antara 36-45 km/jam.
Untuk informasi maritim terkait prakiraan tinggi gelombang maksimum, BMKG juga mengimbau kepada nelayan untuk tidak melaut terlebih dahulu, atau masyarakat yang masih menikmati liburan di sekitar pesisir pantai untuk berhati-hati. Terutama di perairan sebelah selatan Jawa Barat karena ketinggian gelombang hari ini dan esok hingga mencapai 4 meter.
(eks/hyg/eks)