Head of data science Grab Kong-wei Lye menyebut adopsi kedua teknologi juga membantu perusahaan menentukan tarif secara real-time. Komponen permintaan dan persediaan (supply and demand) menentukan tarif bagi pelanggan.
"Kami lebih maju, terdapat berbagai komponen untuk menentukan harga. Misalnya ketika ada yang pesan, dan kemudian pengemudi nya menjemput jauh atau ke tempat terpencil sehingga tidak dapat mendapatkan penumpang lagi. Supaya fair ya untuk supir harganya naik," ujar Kong-wei di Kantor Grab Indonesia, Jakarta Selatan, Kamis (2/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengakomodir hal itu, Grab telah dibekali fitur 'Booking Marathon' dan 'My Destination' di aplikasi pengemudi. Fitur 'Booking Marathon' hanya bisa digunakan oleh sopir Grabcar agar bisa langsung mendapatkan pesanan selanjutnya ketika hendak menurunkan penumpang.
"Sebelum dia menyelesaikan perjalanan, dia bisa mendapatkan bookingan lagi. Jadi itu salah satu cara untuk memaksimalkan produktivitas dia," imbuhnya.
Perusahaan yang didirikan oleh Anthony tan ini mengklaim fitur tersebut membantu pengemudi tetap produktif bahkan ketika hendak kembali pulang ke arah rumah. Pengemudi akan mendapatkan pesanan yang searah.
"Ini bisa membantu mereka mendapatkan kerjaan yang searah dengan jalan pulang, darip ada mereka jalan pulang tanpa ada pesanan. Jadi pengemudi sangat menyukainya. Kita akan prioritaskan orderan sesuai dengan arah pulang pengemudi," ucapnya.
Lebih lanjut Kong-wei juga mencontohkan di Singapura ada pengemudi yang mendapatkan lima pesanan ketika mengarah ke pulang. Contoh ini membuktikan peningkatan optimalisasi dan produktivitas pengemudi. Kendati demikian fitur yang sudah live pada awal Januari 2018 ini hanya bisa digunakan maksimal dua kali dalam sehari. (evn)