9 Tips Memotret Hujan Meteor Perseids Dini Hari Nanti

Eka Santhika, CNN Indonesia | Sabtu, 11/08/2018 20:42 WIB
9 Tips Memotret Hujan Meteor Perseids  Dini Hari Nanti Ilustrasi (Pixabay/StockSnap)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memotret peristiwa langit bisa dibilang cukup menantang. Apalagi menangkap guratan meteor yang punya cahaya redup ke dalam foto.

Untuk mengabadikan hujan meteor Perseids 2018 yang mencapai puncaknya pada Minggu dan Senin dini hari inii, berikut beberapa tip yang dibagikan oleh NASA. 

1. Lingkungan gelap

Temukan lokasi dimana sekitar lokasi itu tak banyak ada cahaya lampu.


"Terlalu banyak lampu akan menyulitkan mata untuk melihat sinar meteor yang redup. Selain itu, hasil foto akan bocor oleh cahaya," jelas salah satu pegawai NASA dalam laman Tumblr miliknya.

2. Redupkan layar LCD

"Turunkan juga tingkat cahaya dari layar LCD kamera. Cara ini membantu mata untuk menyesuaikan dengan kondisi sekitar yang gelap."

3. Tripod

NASA juga menyarangkan untuk mengambil gambar menggunakan tripod. Sebab, untuk bisa menangkap jatuhnya meteor ini membutuhkan tangkapan kamera dengan eksposur panjang (bukaan lensa yang lama).

Tripod yang lebih berat akan membantu mengurangi guncangan. Jika tak punya, maka tripod yang ringan bisa diperberat dengan menggunakan kantong pasir agar lebih stabil. Jika tak punya tripod, carilah tempat yang cukup stabil untuk menaruh kamera.

4. Kamera wide-angle

Untuk menangkap gambar hujan meteor ini, ada baiknya menggunakan kamera dengan lensa bersudut lebar (wide-angle) untuk mendapat bidang tangkapan gambar yang lebih luas. Hindari menggunakan lensa zoom.

5. Setelan waktu 

NASA juga merekomendasikan untuk menggunakan penyetel waktu (timer) untuk menekan shutter. Cara lain adalah dengan menggunakan remote atau kabel untuk menangkap gambar. Hal ini dilakukan untuk menghindari hasil gambar bergoyang ketika menekan shutter.

6. Pasang fokus ke manual

Memasang fokus ke pengaturan autofokus disebut akan membuat kamera kesulitan menentukan fokus pada langit yang kelam.

Untuk menguji fokus, cobalah untuk mengambil beberapa gambar terlebih dulu. Lihat hasilnya dan sesuaikan posisi fokus mana yang terbaik.

Beberapa kamera mungkin memiliki jendela pengintai elektronik atau pilihan live view yang bisa otomatis melakukan fokus dan perbesaran ke arah bintang.

7. Arahkan ke arah radian

Jika ingin mengamati hujan meteor dengan mata telanjang, cara terbaik menurut NASA adalah dengan berbaring dan melihat ke seluruh angkasa. Sebab, hujan meteor ini mungkin tampak di seluruh langit.

Tapi biasanya mereka tampak datang dari satu titik tertentu yang disebut sebagai titik radian. Untuk hujan meteor Perseus, arahkan pandangan ke rasu bintang Perseus. Dengan mengarahkan kamera ke arah tersebut membuat pemotretan meteor jadi lebih mudah.


8. Aturan 500

Eksposur yang panjang memang dibutuhkan untuk menangkap foto meteor. Tapi jika membuka lensa terlalu lama, bisa jadi malah hasil foto ikut merekam gerakan rotasi Bumi. Jika tak ingin hal itu terjadi, ada aturan khusus yang perlu diikuti: Aturan 500.

"Ambil 500 dan bagi dengan panjang lensa (dalam milimeter). Hasilnya adalah angka untuk menentukan berapa lama shutter harus dibuka sebelum hasil foto mulai menimbulkan jejak bintang (star trail)," tulis NASA lagi.

Sebagai contoh jika kamera punya panjang lensa 20 mm, maka untuk menentukan lama lensa dibuka adalah 500 dibagi 20 adalah 25. Sehingga, 25 detik adalah waktu terlama lensa mesti dibuka sebelum jejak bintang terekam.

Setelah menetapkan waktu eksposur yang dibutuhkan, sesuaikan pengaturan lainnya untuk ISO dan bukaan lensa. Jika terlalu gelap, sesuaikan bukaan ke angka yang lebih rendah dan ISO ke angka lebih tinggi.

9. Dini hari

Setelah selesai dengan semua pengaturan kamera dan posisi pengambilan gambar, tinggal soal waktu yang tepat. Rata-rata penampakan meteor terbanyak ada di jam setelah tengah malam dan sebelum fajar.

"Setelah menyesuaikan pengaturan kamera, menangkap foto yang baik hanyalah soal waktu dan keberuntangan," seperti dikutip Space. (eks/eks)