"Pakar gempa dunia pun sepakat bahwa gempa memang belum dapat diprediksi dengan akurat kapan dimana dan berapa magnitudonya," jelas Daryono dalam keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (24/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 90.000 orang penduduk terselamatkan karena telah dievakuasi sebelum kejadian. Sementara 90 persen bangunan kota hancur akibat gempa.
Sederet peristiwa gempa besar merusak dan mematikan terus mendera China dan mengakibatkan ratusan hingga ribuan korban tewas.
Beberapa metode yang biasa digunakan untuk memprediksi gempa diantaranya, pengukuran precursor gempa, hingga bpengamatan tingkah laku binatang.
Jepang juga menjadi negara paling getol dalam kajian prediksi gempa tetapi ternyata gempa-gempa besar terus terjadi tanpa mau memberi tahu dan tanpa permisi.
Bahkan gempa dahsyat yang memicu tsunami Tohuku 2011 yang menelan korban puluhan ribu orang, menjadi catatan penting bahwa prediksi yang mereka lakukan ternyata meleset.
Saat ini, jalur sesar San Andreas ini terus dimonitor dinamikanya dengan GPS. Alat pengukur regangan strainmeter dan tiltmeter juga dipasang di beberapa lokasi jalur sesar.
Monitoring gas radon dan perubahan suhu juga dilakukan, tetapi tetap saja belum ada hasil seperti yang diharapkan. Akhirnya, banyak ahli gempa yang menyerah dengan riset prediksi gempa.
Konon hingga kini hanya China yang masih bersemangat meneruskan riset prediksi gempa. Jepang dan USA kini lebih tertarik mengalokasikan anggaran dana untuk mitigasi gempa, seperti penguatan struktur bangunan dan masyarakat di kawasan berisiko. Meski demikian kajian prediksi tetap dilakukan tetapi bukan lagi menjadi prioritas mereka. (eks)