Tip Cara Kenali Hoaks Gempa

Eka Santhika, CNN Indonesia | Minggu, 26/08/2018 13:00 WIB
Tip Cara Kenali Hoaks Gempa Ilustrasi (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengimbau agar masyarakat tidak mudah terpengaruh soal informasi bohong (hoaks) yang diperoleh tentang gempa.

"Saya percaya siapapun dapat dengan mudah membuat tulisan semacam informasi gempa dan prediksi gempa 'karangan' (dan) selanjutnya diunggah di media sosial," jelasnya dalam keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (24/8).

Daryono kemudian memberikan beberapa poin untuk mengenali apakah informasi mengenai gempa merupakan kabar hoaks atau tidak.



Pertama, pastikan informasi didapat dari lembaga resmi penyedia informasi gempa. Jika mereka tidak menyebutkan lembaga, alamat, nomor kontak lembaga dan nama petugas yang dapat dihubungi. Maka sebenarnya mereka tidak bertanggung jawab," tulisnya.

Saat ini, banyak lembaga resmi penyedia informasi gempa seperti BMKG, USGS (Amerika Serikat), JMA (Jepang), GFZ (Jerman), EMSC (Mediterania), Geoscope, CEA (China), dan lain-lain.

Kedua, mereka tidak menjelaskan metoda ilmiah ataupun data yang digunakan untuk memprediksi. Selain itu, Daryono juga mengingatkan bahwa hingga saat ini belum ada satu pun lembaga ilmiah dunia yang sudah bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi. 

Satu-satunya prediksi tepat soal gempa sempat terjadi di China tahun 1975. Namun, setelah itu China dan berbagai negara dunia lainnya tak berhasil memprediksi kapan gempa akan terjadi. Sekalipun mereka telah mencoba melakukan metode yang sama bahkan dengan alat yang lebih canggih sekalipun. 


Ketiga, pembaca mesti kritis. Sebab, pada beberapa kasus soal hoaks gempa yang diamati CNNIndonesia.com, isu hoaks itu seringkali mencatut nama BMKG atau lembaga lainnya untuk mendapat kepercayaan pembaca.

Selain itu, mereka juga seringkali melakukan klaim metoda pengamatan tertentu untuk makin memperkuat argumen mereka. Meski ketika dicari tahu, argumen metode penelitian yang mereka sebutkan sebenarnya salah.

Keempat, mereka seringkali menuliskan klaim "infovalid" atau "valid" dalam cuitannya. Ini adalah salah satu trik persuasi untuk menguatkan keyakinan pembaca bahwa informasi yang mereka berikan memang sudah divalidasi.


Untuk itu, baiknya penerima pesan memasang kacamata skeptis pada tiap informasi yang diterima dan mencari tahu terlebih dulu pada keterangan yang diberikan.

Informasi yang dibuat dengan tidak bertanggung jawab ini menurut Daryono ibarat seorang anak setelah melempar petasan kemudian lari dan bersembunyi.

Makanya, ia mengajak masyarakat untuk tetap percaya pada akal sehat ketimbang terburu oleh kepanikan yang memang sengaja dibangun dari kabar hoaks itu.

Kebanyakan kabar bohong ini memang memainkan psikologis pembaca dan memanfaatkan kepanikan warga agar suasana tidak kondusif. (eks)