6 Hoaks Gempa Donggala dan Tsunami Palu

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 02/10/2018 13:50 WIB
6 Hoaks Gempa Donggala dan Tsunami Palu Kondisi pesisir Pantai Talise pasca gempa bumi dan tsunami, Selasa (2/10). (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengonfirmasi sejumlah hoaks yang menyebar terkait gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Donggala, Palu, dan Mamuju, Sulawesi Tengah.

Plt Humas Kemenkominfo Ferdinandus Setu mengatakan sejumlah pesan berantai hingga gambar di sejumlah media sosial dan layanan pesan singkat.

"Kemenkominfo telah melakukan pemantaan atas konten negatif yang beredar di jaringan internet, baik melalui situs maupun media sosial dan platform chatting. Hasilnya ditemukan konten yang berisi hoaks beredar di masyarakat," terang pria yang kerap disapa Nando dalam keterangan resmi.


Berikut klarifikasi Kemenkominfo terkait informasi hoaks yang tersebar di masyarakat.

Hoaks Walikota Palu meninggal
Melalui platform chatting WhatsApp, Walikota Palu, Hidayat, dikabarkan telah meninggal dunia akibat bencana gempa bumi dan tsunami.

Faktanya, pria kelahiran 1963 ini masih sehat dan turut membantu tindakan tanggap darurat gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah.


Hoaks gempa susulan
Isu gempa susulan yang diduga akan jauh lebih dahsyat dibandingkan gempa sebelumnya juga marak beredar melalui media sosial Facebook dan WhatsApp.

Namun, menurut Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, tidak ada satu negara pun yang mampu memprediksi gempa secara pasti.

Hoaks penerbangan gratis Makassar-Palu bagi keluarga korban
WhatsApp sekiranya menjadi platform yang paling banyak digunakan dalam penyebaran berita bohong. Kali ini, berita perihal akses penerbangan gratis dari Makassar ke Palu untuk keluarga korban beredar luas.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Plt. Humas Kemenkominfo, Ferdinandus Setu, pesawat Hercules TNI AU yang diberitakan mampu digunakan keluarga korban untuk pergi ke Palu merupakan pesawat yang mengangkut bantuan. Mulai dari bantuan logistik, paramedis, obat-obatan, makanan siap saji, hingga alat-alat berat. 

Pesawat ini memang mengangkut pengungsi yang diprioritaskan untuk lansia, perempuan, dan anak-anak, dari Palu ke Makassar. Namun, bukan untuk mengangkut keluarga korban yang hendak pergi ke Palu.

Hoaks Potret Para Korban Bencana
Di Facebook ramai tersebar potret puluhan jenazah yang disebut-sebut sebagai korban bencana gempa bumi dan tsunami Palu. 

Faktanya, puluhan jenazah ini merupakan potret korban gempa tsunami di Aceh pada 2014 silam dan bukan korban bencana Palu.

Hoaks Gerak Cepat Relawan FPI
Foto beberapa relawan FPI yang membantu proses evakuasi korban tersebar di jejaring Facebook. Foto ini diklaim sebagai tindakan cepat FPI mengevakuasi korban gempa Palu.

Setelah sukses dibagikan lebih dari 1.500 akun, berita ini terbukti tidak benar adanya. Sebab, foto ini diambil kala relawan FPI membantu korban longsor di Desa Tegal Panjang, Sukabumi.

Hoaks jenazah Lili Ali, sang peminta gempa
Empat hari sebelum gempa melanda Palu, sebuah akun bernama Lili Ali mengunggah status kontroversial terkait gempa Palu. Statusnya berbunyi "Biar gempa mogoyang Palu, eykee tetap dukung Pakdee,". Sontak, status ini menjadi bulan-bulanan warganet karena dianggap 'meminta gempa'.

Tak lama setelah hujatan datang, kabar kematian sosok perempuan bernama Lili Ali ini tersebar melalui Facebook. Namun Plt. Humas Kemenkominfo, Ferdinandus Setu, menegaskan bahwa jenazah mengapung yang terdapat di foto tersebut bukan sosok Lili Ali. Melainkan, jenazah seorang ibu dari Sumatera Barat yang hendak menemui anaknya di Pekanbaru.

Mengingat sulitnya mengontrol penyebaran berita hoaks di masyarakat khususnya media sosial, Kemenkominfo mengimbau tidak mudah percaya atau membagikan informasi yang tidak jelas sumbernya. Segala bentuk informasi yang diduga mengandung hoaks dapat dilaporkan melalui laman aduankonten.id, posel aduankonten@kominfo.go.id  atau mention ke akun twitter @aduankonten. (dna/evn)