Tak hanya dua data tersebut, 14 juta diantaranya bahkan mengakses informasi mengenai alamat tempat tinggal, status hubungan, agama, hingga history pencarian pada perangkat mereka.
Vice president Facebook Guy Rosen mengatakan kasus tersebut saat ini tengah dalam tahap penyelidikan oleh FBI. Ia mengatakan FBI meminta perusahaan sementara untuk tidak menebak-nebak siapa dalang di balik serangan ini atau membagikan informasi rinci yang disebut bisa membahayakan proses penyelidikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perusahaan milik Mark Zuckerberg ini menjanjikan akan mengirimkan pesan ke 30 juta pengguna yang terkena imbas peretasan dalam beberapa hari kedepan. Facebook juga menjanjikan akan mengunggah informasi di laman 'pusat bantuan' terkait kasus ini.
"Kami kini tahu bahwa hanya lebih sedikit orang yang terkena imbas dari jumlah yang kami duga sebelumnya. 30 juta pengguna diantaranya terkena imbas peretasan," ungkap Facebook.
Peretas diketahui memanfaatkan celah pada platform Facebook. Perusahaan mengatakan adanya celah keamanan sejak Juli 2017. Besar kemungkinan hingga bulan lalu celah tersebut tak kunjung diperbaiki, lantaran aksi serupa kerap berulang.
Sejauh ini, Facebook mengimbau penggunanya untuk keluar dan masuk ulang ke akun mereka sebagai upaya pencegahan.
Rangkaian kebocoran data pengguna Facebook belakangan terus mencuat usai terbongkarnya skandal penyalahgunaan data yang melibatkan Cambridge Analytica. Akibat serangkaian kasus kebocoran data, pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg beberapa kali harus menghadapi sidang dan tuntutan dari sejumlah negara mulai dari Uni Eropa, Amerika, hingga Australia. (evn)