Cerita di Balik Batalnya Proyek Mobil Indonesia-Malaysia

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 16/10/2018 14:47 WIB
Cerita di Balik Batalnya Proyek Mobil Indonesia-Malaysia Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) bersama mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad (kelima kiri) melihat prototipe mobil Proton Iriz di Malaysia. (Foto: ANTARA FOTO/Udden Abdul)
Jakarta, CNN Indonesia -- Staf Khusus Presiden Diaz Faisal Malik Hendropriyono membuka cerita di balik batalnya kerja sama antara inisiator Esemka dengan merek mobil nasional Malaysia, Proton. Diaz menyebut sinergi itu belum pernah terwujud lantaran hawa panas politik di Malaysia antara Mahatir Mohamad dengan Najib Razak.

Pada Februari 2015 lalu ayah Diaz, Abdullah Makhmud Hendropriyono, mewakili perusahaannya Adiperkasa Citra Lestari, menandatangani nota kesepemahaman dengan Proton Holdings Bhd.

Penandatangananan disaksikan oleh Presiden Joko Widodo, Perdana Menteri Malaysia saat itu Najib Razak, dan Mahatir sebagai bos Proton.



Nota kesepemahaman meliputi pengembangan industri mobil yang kemudian memunculkan isu tujuannya untuk melahirkan mobil nasional baru Indonesia. Kabar pengembangan mobil nasional Indonesia sempat disangkal banyak pihak, termasuk kubu Jokowi yang mengatakan nota kesepemahaman itu murni bisnis.

Nama Esemka jadi sorotan lantaran Adiperkasa Citra Lestari melebur dengan pemegang lisensi mobil Esemka, Solo Kreasi Manufaktur, menjadi perusahaan baru bernama Adiperkasa Citra Esemka Hero (ACEH) pada 2015. Hendropriyono merupakan Presiden Direktur ACEH.


Seteru Mahatir dan Najib

Diaz menyebut pihak Esemka memandang situasi politik di Malaysia tidak kondusif, terutama menjelang pemilihan perdana menteri yang dilakukan pada Mei 2018. Situasi semakin memanas pada masa kampanye antara dua calon perdana menteri, yaitu Najib dan Mahatir yang hadir saat penandatanganan nota kesepemahaman antara Adiperkasa Citra Lestari dengan Proton.

"Pas masih kampanye, jadi ya tidak kondusif untuk kerjasama dengan mereka," kata Diaz saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan pada akhir pekan lalu.

Selain dinamika politik yang tidak baik, Diaz mengatakan bahwa kondisi pada internal Proton banyak berubah. Kala itu ia menyebut Proton masih dikendalikan penuh oleh Mahatir.

"Karena di internalnya (Proton) berubah dan situasi politik berubah. Saat itu Proton masih dipegang Mahatir, sementara PM (Perdana Menteri) Najib," ucapnya.

Diaz menjelaskan bahwa Esemka hingga kini belum menjalin kerjasama lagi dengan pihak dari negara lain. Investor Esemka sekarang dikatakan masih dari Indonesia.

Pada Mei 2018, Mahatir yang berusia 93 tahun terpilih menjadi Perdana Menteri Malaysia. Pemimpin negara tertua di dunia itu sempat mengunjungi Jokowi di Istana Bogor pada Juni 2018 lantas menyinggung pembangunan mobil Indonesia-Malaysia untuk pasar Asia Tenggara yang berkaitan dengan kesepakatan Adiperkasa Citra Lestari dengan Proton.

"Kami berkeinginan menghidupkan kembali proyek ini," ucap Mahathir kala itu. (ryh/fea)