Pengamat Minta Orang Tua Waspadai Hoaks Agama untuk Anak-anak

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 16/10/2018 20:07 WIB
Pengamat Minta Orang Tua Waspadai Hoaks Agama untuk Anak-anak ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hoaks dapat mempengaruhi masa depan generasi muda bangsa Indonesia. Pengamat Media Sosial Nukman Luthfie mengatakan generasi muda saat ini dipengaruhi oleh berita hoaks di lingkungan terdekat seperti lingkungan sekolah hingga keluarga.

Dengan ketiadaan edukasi digital terkait berita hoaks, anak-anak akan terkena penetrasi berita hoaks yang mereka dapat dari orang tua dan guru. Sosok yang dijadikan panutan memberikan berita hoaks, tentu anak-anak tidak punya kekuatan untuk melawan penetrasi.

"Sekarang yang bahaya lagi kalau hoaks dipercaya seorang guru atau pendidik itu akan dibawa ke anak didiknya. Makanya hoaks hari ini efeknya ke generasi muda. 2030 itu panen demografi. Kalau anak termakan hoaks karena pendidik bisa dibayangkan bagaimana Indonesia di masa depan," tutur Nukman di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Selasa (16/10).
Nukman kemudian menceritakan bahwa ada siswa TK yang bertanya kepada ibunya terkait aksi demonstrasi dari organisasi agama. Anak tersebut mengatakan aksi tersebut direstui oleh Allah karena awan seolah bergerak mengikuti dan melindungi demonstran dari panas matahari.


"Ada anak TK bilang ke ibunya, demo yang itu direstui Allah. Karena meskipun demo siang. Awan bergerak melindungi, dia bilang ibu guru yang bilang. Padahal itu kan ilmu fisika biasa. Bagaimana masa depan anak kita," ujar Nukman.

Memasuki masa Pilpres dan Pileg, Nukman mengatakan intensitas penyebaran berita hoaks akan semakin masif. Oleh karena itu ia menekankan betapa pentingnya edukasi digital kepada orang tua atau guru agar tidak sembarangan membagikan berita hoaks ke anak-anak.
"Maka masa depan anak-anak harus dijaga lewat edukasi ke guru agar otak mereka tidak termakan hoaks. Harus lihat sekolah-sekolah Islam agar jangan mudah percaya hoaks," tutur Nukman

Nukman mengatakan politik itu merusak media sosial. Pasalnya dalam politik itu berkaitan erat dalam kampanye hitam yang berusaha mengelabui dan menyebarkan berita hoaks untuk mengurangi peluang dari lawan politik.

"Politik merusak media sosial. Twitter dan Facebook itu dulu lucu. Begitu masuk Prabowo, Jokowi, Ahok sudah mulai beda. Tiba-tiba tegang karena sudah mulai muncul konten yang mudah membakar. Hoaks itu pupuk rasa kebencian," kata Nukman. (jnp/age)