Kena Denda Rp72,5 Triliun, Google akan Tarik Biaya Aplikasi

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 18/10/2018 05:16 WIB
Kena Denda Rp72,5 Triliun, Google akan Tarik Biaya Aplikasi Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Arnd WIegmann)
Jakarta, CNN Indonesia -- Google akan menarik biaya dari para produsen ponsel yang membenamkan (pre-installed) aplikasi Google seperti PlayStore, Gmail, Maps, dan YouTube di Uni Eropa.

Nominal biaya yang akan dibebankan ke produsen ponsel belum disebutkan. Perubahan kebijakan ini disinyalir merespon denda sebesar Rp72,5 triliun oleh Uni Eropa yang harus dibayar oleh Google karena kasus dugaan monopoli sistem operasi ponsel pintar.

Dilansir dari The Verge, para produsen harus membayar biaya lisensi untuk menggunakan aplikasi Google. Akan tetapi aplikasi Google Chrome masih tersedia secara cuma-cuma untuk produsen.
Senior Vice President of Platforms Google Hiroshi Lockheimer mengatakan basis sistem operasi Android masih gratis dan open source meskipun ada perubahan baru ini.


"Pre-installation dari Google Search, Chrome, dan aplikasi kami lainnya telah membantu mendanai pengembangan dan distribusi gratis dari Android, kami akan memperkenalkan persetujuan lisensi berbayar terbaru untuk ponsel pintar dan tablet yang dikapalkan ke European Economic Area (EEA)," kata Lockheimer

Lockheimer juga mengatakan produsen bisa saja tetap mengapalkan produk tanpa membayar lisensi. Akan tetapi, produk tersebut tidak akan dibenamkan produk Google, termasuk PlayStore.

PlayStore ini dianggap menjadi ujung tombak bagi Google agar para produsen mau membayar lisensi. Seperti yang diketahui, Google Play Store digunakan oleh pengguna untuk mengakses aplikasi Android.
Oleh karena itu, mau tidak mau, produsen sepertinya harus membayar tarif lisensi ke Google. Diduga pembayaran tarif lisensi ini akan mengakibatkan harga perangkat meningkat.

Dilansir dari CNBC, perubahan ini akan mulai diterapkan pada 29 Oktober dan akan berpengaruh pada perangkat yang dikapalkan ke EEA. EEA merupakan grup yang terdiri dari 28 negara Uni Eropa, termasuk Islandia, Norwegia, dan Liechtenstein.

Perusahaan Induk Google, Alphabet didenda sebesar US$5 milliar (sekitar Rp72,5 triliun) keuntungan Alphabet pada kuartal kedua turun sedikit dari tahun sebelumnya. Kuartal dua ini Google mencatatkan keuntungan US$3,2 miliar (Rp46,3 triliun) saja dibanding tahun lalu yang mencapai US$3,5 miliar (Rp5 triliun). (jnp/age)