Empat Tahun Jokowi-JK

Bungkusan Dunia Digital 'Milenial' ala Jokowi

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Jumat, 19/10/2018 08:17 WIB
Bungkusan Dunia Digital 'Milenial' ala Jokowi Kegiatan Presiden Jokowi saat pembukaan Asian Games. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo bisa jadi kian sadar dengan kehadiran media sosial di balik kegiatannya sejak memimpin pada 2014 lalu. Dia menceritakan soal kegiatan kenegaraannya hingga berbagi kepingan kehidupan pribadi.

Mulai dari berlatih tinju, atau menceritakan kambing peliharaannya di Istana Bogor.

Anak ketiga Jokowi, Kaesang Pangarep juga sering mengunggah video lucu dengan ayahnya. Misalnya saja video ketika Kaesang adu panco dengan Jokowi, saat Jokowi mengomentari model rambut 'Undercut" Kaesang.


[Gambas:Youtube]

Video Youtube dengan judul 'Adu Panco' yang diunggah dua tahun ini telah ditonton oleh 3,5 juta warganet. Kaesang sendiri memiliki jumlah subscriber dengan jumlah 616 ribu.

[Gambas:Youtube]

Dalam dialognya, Jokowi mengomentari tubuh Kaesang yang lebih besar dari dirinya. "Badan gede gini, badan haduuuh tapi belum tentu kuat. Nih bapak, kecil tapi diadu kuat juga berani," katanya.

Koordinator Gerakan #BijakBersosmed Enda Nasution mengatakan tidak semua pemimpin negara mau membagikan kehidupan pribadinya. Enda mengatakan sebagai seorang politikus tentu ada tujuan politis dibalik video yang diunggah Jokowi.

Tetapi sebagai seorang pemimpin, Enda mengatakan Jokowi ingin membangun hubungan emosional dengan warganya.

"Di satu sisi ia mau berkomunikasi mengungkap sisi lainnya, karena tidak semua pemimpin mau kelihatan sisi manusia seorang pemimpin. Di sisi lain ekspektasi masyarakat untuk bisa lebih dekat dengan pemimpin lewat jalur media sosialnya," kata Enda saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (18/10).

Jokowi tercatat mulai aktif di Youtube sejak 2016 lalu dengan jumlah 682,746 subscribers.


Sementara itu di Twitter Joko Widodo di akun @Jokowi dengan jumlah follower menyentuh 10,5 juta, akun Jokowi terdaftar di Twitter Sejak September 2011, artinya akun Twitter ia buat saat yakni masih menjabat sebagai Walikota Solo. Di Instagram sendiri Jokowi memiliki jumlah pengikut 12,7 juta.

Enda menuturkan kedekatan emosional melalui media sosial ini bisa terjadi karena spesifikasi media sosial yang mampu menjatuhkan batasan-batasan seperti ruang dan waktu.

Selain itu, katanya, pengikut Jokowi di media sosial tentu akan jengah apabila konten media sosialnya hanya soal politik saja.

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara jasa Internet Indonesia (APJII), pertumbuhan penetrasi Internet sebesar 54,68 persen sepanjang 2017. Dengan angka seperti ini, masyarakat Indonesia dianggap sasaran empuk bagi tokoh yang ingin membangun pencitraan melalui media sosial.
Bungkusan Dunia Digital 'Milenial' ala JokowiPertemuan Mantan Presiden AS Barack Obama-Jokowi menjadi salah satu hal yang dibagikan Kaesang, (Foto: Dok. Fotografer Kepresidenan/Agus Suparto)

Kendaraan Politik

Terpisah, Ketua Indonesia ICT Institute (IDICTI) Heru Sutadi mengatakan sifat media sosial di era politik bisa menjadi sebuah kendaraan politik untuk mempertahankan konstituen.

Heru mengungkapkan media sosial berbeda dengan komunikasi politik konvensionall yang memiliki tembok ruang, waktu, hingga protokoler yang ribet.

"Karena sesuai sifatnya, media sosial memangkas sekat-sekat birokrasi, jarak dan juga strata. Semua bisa kirim komentar, mengikuti aktivitas dan menyuarakan apa yang disampaikan Jokowi," kata Heru.


Heru mengatakan unggahan video Kaesang dengan Jokowi adalah selayaknya hubungan simbiosis mutualisme. Kaesang di satu sisi diuntungkan karena menggunakan orang nomor satu di Indonesia sebagai nilai jual di video.

Di sisi lain, Jokowi juga diuntungkan karena unggahan video Kaesang memudahkan penetrasi ke generasi milenial.

Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) generasi milenial mulai dari usia 17 hingga 34 tahun terdapat sekitar 90 juta jiwa, menyumbang sekitar 34 persen dari total penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 266 juta jiwa.

"Ya memang kebutuhan zaman untuk berkomunikasi dengan cara baru kepada rakyat, termasuk khususnya generasi milenial. Saling menguntungkan [hubungan ini]. Jokowi jadi masuk ke kalangan milenial, Kaesang videonya jadi laku," ujar Heru.

Heru mengatakan Jokowi sebagai seorang kepala negara tentu mendapatkan perhatian khalayak Oleh karena itu, dipastikan media sosial Jokowi laris-manis dikonsumsi warganet.


Pakar Komunikasi Publik Bagus Sudarmanto mengungkapkan dalam komunikasi yang baik, seseorang harus mengerti target pesan yang hendak agar tepat sasaran.

"Jokowi memahami itu sehingga ia menggunakan media sosial untuk penetrasi generasi milenial," kata Bagus.

Di sisi lain, Jokowi pun mengingatkan warga agar tak menghabiskan energi yang tak perlu macam yang terjadi di media sosial. Misalnya, saling mengejek, memfitnah hingga menyebarkan hoaks.

"Apa energi kita mau kita habiskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti itu?" kata Jokowi, September lalu.


Akibat terlampau sering menghabiskan waktu untuk mengurusi media sosial itu, menurut Presiden, sebagian lupa bahwa ada persoalan besar yang harus diselesaikan: kemiskinan dan kesenjangan. 

Jokowi bisa jadi benar. Dan di balik suasana Pilpres 2019 yang kian menghangat, sebagian warganet-pendukung maupun para pengkritik Jokowi- bisa jadi tetap setia menunggu aksi digital sang Presiden. Termasuk, aksi di dunia nyata untuk menuntaskan kemiskinan. (asa)