Twitter Sisir Akun Bot Pembela Saudi di Kasus Khashoggi

Tim , CNN Indonesia | Sabtu, 20/10/2018 23:43 WIB
Twitter Sisir Akun Bot Pembela Saudi di Kasus Khashoggi Ilustrasi (REUTERS/Regis Duvignau)
Jakarta, CNN Indonesia -- Begitu dugaan jurnalis asal Arab Saudi Jamal Khashoggi terbunuh di konsulat di Turki semakin menguat, akun-akun media sosial dan komentator konservatif semakin pasang badan untuk Arab Saudi. Akun-akun ini menyebarkan informasi tak akurat tentang kematian Khashoggi dan menyebut kerajaan Arab Saudi tidak bersalah.

Twitter kemudian menangguhkan sejumlah akun bot atau akun robot yang dijalankan secara otomatis dengan perangkat lunak tertentu setelah media NBC memperingatkan soal sejumlah akun yang meragukan keterlibatan Saudi.

"Terdapat sejumlah jejaring bot dan tujuan utamanya adalah memanipulasi tren untuk menyembunyikan informasi negatif tentang keterlibatan Saudi dibalik menghilangnya Khashoggi," jelas Marc Owen Jones, salah satu peneliti yang melacak bot Saudi yang mencuit tentang kasus Khashoggi kepada Newsweek.


"Jumlah bot yang banyak mendorong tren [informasi yang] kritis, sementara meningkatkan [popularitas] informasi dangkal atau propaganda pro-MBS [Mohammed bin Salman, putera mahkota kerajaan Arab Saudi], " tambahnya.

Peneliti itu juga menyabut bahwa di Amerika Serikat, Selain itu, akun-akun patriotik juga mempromosikan tagar nasionalis yang mempromosikan pesan positif mengenai MBS.

Banyak bot ini yang juga menyebut Khashoggi sebagai simpatisan Islamist and Muslim Brotherhood. Mereka juga mencoba mendiskreditkan tunangan Khashoggi. Tunangannya itu memang tampak vokal sejak menghilangnya Khashoggi. Mereka juga mendorong untuk memboikot wisata ke Turki.

Peneliti lainnya, Josh Russel menyebut "sebagian besar bot ini adalah bot spam, tapi banyak juga bot yang berafiliasi dengan politik di dalamnya. Kebanyakan bot ini melakukan cuitan ulang," demikian dikutip Newsweek.

Pengamat menyebut bahwa sebagian besar bot berbahasa Arab ini bertujuan untuk meredam kritik atas Saudi.

"Menurut pengamatan saya adanya lalu lintas yang sangat tinggi terhadap tagar yang membela Saudi atau menyerang pengkritiknya. Misal menyerukan [kantor berita] Al Jazeera untuk ditutup. Beberapa lalu lintas terlihat organik," jelas Ben Nimmo, peneliti senior di Laboratorium Forensik Digital Atlantic Council, yang melacak kampanye disinformasi daring.

Lebih lanjut menurutnya beberapa cuitan didorong oleh kelompok bot yang relatif kecil, berjumlah belasan atau ratusan. Mereka digunakan untuk meningkatkan pesan individu. Beberapa pesan terlihat diposkan oleh cluster pengguna manusia yang terorganisir. Menurut Nimmo, mereka tampak mengeposkan cuitan dalam koordinasi.

Meski Twitter telah mengadang sejumlah akun yang menyebarkan informasi menyimpang, dikutip dari Anadolu, laporan NBC menyebutkan bahwa tak semua akun tersebut telah dibersihkan.

Diketahui, Khashoggi menghilang setelah masuk ke konsulat Arab Saudi di Turki. Pemerintahan Erdogan menyebut bahwa wartawan asal Saudi itu dibunuh di dalam konsulatnya sendiri.

Sementara, Saudi terus mengelak dan menyebut bahwa ia telah keluar konsulat. Namun, belakangan Saudi mengaku bahwa Khashoggi tewas di dalam konsulat.

(eks/arh)