Analisis

Kerja Keras di Balik Pengembangan Esemka

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Jumat, 26/10/2018 11:22 WIB
Kerja Keras di Balik Pengembangan Esemka Joko Widodo saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo pernah mempopulerkan Esemka. (Foto: Detikcom/Rachman Haryanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Esemka kembali 'menyala' setelah Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin mendukung pembangunan industri mobil nasional salah satunya Esemka. Efeknya, Esemka yang beberapa bulan terakhir menghilang dari perbincangan kembali muncul ke permukaan.

Hal tersebut disampaikan Ma'ruf Amin usai berkunjung ke Pondok Pesantrean (Ponpes) Krapyak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu (14/10).

Bagaikan ilalang menyala dimakan api, Esemka langsung mendapat respons dari masyarakat luas. Ada yang bernada sumbang, ada juga yang merdu terhadap Esemka yang keberadaannya masih belum terbukti.


Mulai warung kopi hingga sosial media, Esemka tak luput diperdebatkan masyarakat. Namun tak ada yang bisa menjawab rasa penasaran mereka. Mereka yang termasuk pendukung Jokowi juga menagih janji wujud Esemka seutuhnya.

Di tengah-tengah kebingungan mereka, tiba-tiba Joko Widodo -yang saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo pernah mempopulerkan Esemka- menyebut kini Esemka bukan tanggung jawab dirinya dan pemerintahan saat ini.

"Urusan saya, urusan apa dengan produksi Esemka? Enggak ada urusan pemerintah. Itu dikerjakan penuh oleh industri, dikerjakan penuh oleh swasta," kata Presiden Jokowi di ICE BSD, Rabu (24/10).

Ungkapan itu mendapat reaksi banyak masyarakat yang meragukan Esemka. Harapan besar Esemka diproduksi massal, tapi faktanya sang pemimpin negara seperti lepas tanggung jawab.

Presiden Jokowi untuk kedua kalinya menyatakan seakan tidak mengikuti perkembangan Esemka. Pertama kali pada saat menghadiri pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018.

"Kalau Esemka pabriknya selesai dan bisa memproduksi ya silakan karena memang kewajiban pemerintah terus mendorong industri otomotif berkembang," ucapnya di ICE, BSD beberapa waktu lalu.
Bagian dalam pabrik Esemka di Boyolali, Jawa Tengah.Bagian dalam pabrik Esemka di Boyolali, Jawa Tengah. (Foto: Screenshot via Instagram/@fxsuryadi77)
Esemka mulai kembali mengejutkan publik pada awal 2018 melalui Garuda 1 yang diduga sebagai SUV Esemka. Mobil itu diangkut dalam perjalanan ke suatu tempat yang tidak diketahui nama lokasinya.

Sejumlah orang memprediksi itu adalah mobil China Foday Landfort. Namun tidak ada seorang pun yang bisa dimintai keterangan soal mobil Esemka. Hasilnya hampa. Lagi-lagi publik 'digocek' Esemka. Gaung Esemka hilang sampai akhirnya kembali menggema lewat upaya Cawapres Ma'ruf Amin.

Tersirat bahwa pengembangan Esemka benar-benar tertutup dan tak jelas kapan akan diproduksi massal.

Berbicara skala bisnis industri otomotif, pihak Esemka seharusnya terbuka kalau memang akan memproduksi massal mobil Esemka yang terlanjur menggema dengan cap mobil rakyat atau nasional. Justru harus dihindari menimbulkan kebingungan yang berujung mendapat cibiran dari lawan politik.

Kendati demikian, kritikan demi kritikan pada mobil Esemka disebut Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding adalah hal biasa menjelang Pilpres 2019. Menurutnya kritikan tersebut merupakan pemacu semangat tim sukses Jokowi-KH Ma'ruf Amin.

"Soal kritik munculnya ketika mau pilpres itu kayaknya kebetulan aja," kata Karding di Posko Cemara, Menteng, Jakarta, Kamis (18/10).

Menurut Karding, program mobil Esemka masih berjalan. "Tapi faktanya yang penting sekarang sudah ada. Itu justru harus kita dorong bagaimana agar itu lahir menjadi suatu produksi dari anak-anak bangsa sendiri," ucap Karding.

Dukungan datang dari tanah kelahiran Esemka, Solo, yaitu dari Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo yang menegaskan bahwa Esemka harus diproduksi massal sesuai tujuan utamanya, yaitu mobil rakyat dengan harga terjangkau.
Joko Widodo sempat mempopulerkan Esemka saat menjabat sebagai Wali Kota Surakarta.Joko Widodo sempat mempopulerkan Esemka saat menjabat sebagai Wali Kota Surakarta. (Foto: Detikcom/Rachman Haryanto)
"Kami pada 2011 pembuatan mobil Esemka ada sparepart yang belum bisa memproduksi sendiri, antara lain ring piston dan dinamo starter. Dinamo ini, duhulu sebenarnya bisa membuat tetapi biayanya agak mahal," jelas Rudyatmo.

Semua fakta di atas tak adil untuk mengatakan bahwa Esemka layu sebelum berkembang. Kita harus menghargai pengembangan Esemka di Indonesia yang dimulai sejak medio 2007 yang saat itu Esemka besar di Solo hanya melibatkan siswa sekolah menengah kejuruan (SMK).

Seiring berjalan waktu, Esemka kini dikabarkan menggandeng pihak swasta agar tampil kompetitif saat diluncurkan nanti. Pabrik Esemka di Boyolali, Jawa Tengah dikabarkan hampir rampung.

Lika-liku Esemka di Indonesia cukup jelas. Saat dipegang pihak swasta pun mobil ini menghadapi rintangan besar. Namun setidaknya ada secercah harapan Esemka diproduksi massal.

Cobaan berat ketika Esemka dinyatakan belum lulus Euro 4 sesuai Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan No 20/Setjen/Kum.1/3/2017 yang efektif berlaku pada Oktober 2018. Artinya harus ada sentuhan baru pada Esemka untuk menyesuaikan aturan yang berlaku.

Harapan Esemka diluncurkan untuk menggairahkan pasar otomotif dalam negeri masih tetap ada. Dukungan ini seharusnya dimanfaatkan agar Esemka tidak mengakhiri permainan yang belum mereka mulai.

(mik)