Menyamar Jadi Akun Elon Musk, Peretas Kumpulkan Rp2,3 Miliar

CNN Indonesia | Selasa, 06/11/2018 15:48 WIB
Menyamar Jadi Akun Elon Musk, Peretas Kumpulkan Rp2,3 Miliar CEO Tesla Elon Musk (REUTERS/Patrick T. Fallon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah akun Twitter terverifikasi yang memiliki centang biru pada akunnya dibajak. Akun-akun ini lantas diubah agar mirip dengan akun Elon Musk. Atas aksinya ini, para peretas itu dilaporkan berhasil mengumpulkan hampir US$158.000 atau sekitar Rp2,3 miliar.

Uang ini didapat dengan mencuitkan scam (pesan tipuan) yang mengatakan bahwa CEO Tesla akan memberikan hadiah besar kepada para pengguna Bitcoin, dengan cara mengikutin tautan yang sudah disediakan oleh scammer.

"Saya akan memberikan 10.000 Bitcoin (BTC) kepada semua komunitas," cuitnya, Senin (5/11).




Untuk bisa mengikuti pemberian gratis ini, pengguna yang memiliki Bitcoin harus menyumbang 0,1 (Rp9,8 juta) hingga 1 bitcoin (sekitar Rp94,8 juta) ke dompet cryptocurrency tertentu yang ia tautkan dalam link cuitan itu dan lewat gambar kode QR. Sebagai imbalannya, pengguna akan menerima kembali 1-10 bitcoin (sekitar Rp94,8-948,4 juta)dari sumbangan itu, seperti dilansir BBC

Untuk meyakinkan pengguna, para peretas ini mengubah foto dan nama pengguna menjadi Elon Musk. Meski demikian, mereka tak bisa mengubah nama akun Twitter tersebut. Mereka juga cukup cerdik mengambil beberapa cuitan Musk diakun yang dibajak ini agar tampak seperti akun asli.

Agar tidak terdeteksi oleh Twitter bahwa para scammer ini tengah melakukan duplikasi identitas, mereka mengubah karakter huruf "L" pada nama "Elon". Sekilas, tak ada yang menyadari bahwa huruf L pada tulisan Elon punya karakter berbeda.

Beberapa akun yang diretas diantaranya Pathe U.K, politisi AS Frank Pallone Jr. Beberapa akun yang diretas membenarkan peretasan akun mereka. Pathe U.K menyebut bahwa ia telah mengambil alih akun Twitternya dan menghapus cuitan palsu Elon Musk itu.



Selain itu, dompet BTC yang digunakan untuk mengumpulkan dana dari para pengguna yang tertipu telah terkumpul US$158,256 (sekitar Rp2,3 miliar) dan bahwa angka ini masih terus bertambah karena pembayaran dari para korban masih berdatangan.

Sebelumnya, kasus penipuan yang melibatkan bitcoin sudah sempat beredar. Setidaknya penipuan semacam ini sudah terjadi tiga kali dalam tahun ini. Pada Januari, Twitter menemukan akun palsu yang meniru penemu Litecoin (LTC) Charlie Lee.

Scammer mencuitkan hadiah palsu yang akan diberikan oleh LTC lewat akun-akun yang mirip dengan akun aslinya, seperti @SatoshiLite dengan nama @ShatoshiLitez dan @SatoshiLitee_.

Pendiri dan CEO Telegram Pavel Durov juga pernah mengalami hal serupa. Durov pernah memberikan peringatan kepada penggunanya bahwa aplikasi perpesanan miliknya sedang mengalami gangguan pada April lalu.

Hal tersebut dimanfaatkan oleh scammer untuk memberikan pesan scam yang menyebut bahwa Durov membagikan hadiah "crypto" kepada seluruh penggunanya sebagai tanda terima kasih atas dukungan pengguna.

Pada September, Musk sempat mencuit kepada pencipta Dogecoin (DOGE), Jackson Palmer untuk memerangi para scammer cryptocurrency ini di Twitter.

Palmer membalas dan meminta Musk untuk berkomunikasi melalui pesan pribadi dan telah mengirimkan sebuah naskah yang dapat memecahkan masalah itu. Belakangan, nama Musk sendiri yang digunakan para scammer untuk melakukan penipuan cryptocurrency, seperti ditulis Cointelegraph. (jef/eks)