Ketiga perguruan tinggi itu, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gajah Mada (UGM) sudah merangkum hasil penelitian yang menjelaskan dampak pemakaian kendaraan berteknologi listrik pada kehidupan sehari-hari. Poin utamanya adalah penghematan.
Lihat juga:Mobil Listrik Nasional Butuh 'Gizi' |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari hasil uji coba disebutkan ada perbedaan konsumsi bahan bakar, model plug-in hybrid menjadi yang paling irit. Pada mesin bensin konvensional Corolla hasilnya 10,8 - 10,9 km per liter, Prius Hybrid 21,9 - 22,5 km per liter, dan Prius Plug-in Hybrid 41,4 - 42,6 km per liter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan penggunaan mobil hybrid penghematannya diperkirakan sekitar Rp2,71 triliun - Rp2,84 triliun. Sementara mobil plug-in hybrid dapat menghemat Rp3,97 triliun- Rp4,07 triliun. Penghitungan ini dilandasi pola mengemudi acak harian 12 ribu km per tahun.
Sedangkan UGM, dalam presentasinya mencatat bahwa konsumsi bahan bakar Prius Plug-in Hybrid berkisar 54,42 - 68,11 km per liter, Prius Hybrid 21,48 - 22,99 km per liter, dan Corolla 10,43 - 10,51 km per liter.
UGM juga menjelaskan pemakaian mobil berteknologi plug-in dan hybrid untuk jarak tempuh 50 km bisa menghasilkan penurunan masing-masing 81,13 persen dan 52,91 persen relatif terhadap pemakaian mobil mesin konvensional.
Menanggapi hasil yang didapat tiga universitas, Kementerian Perinduatrian (Kemenperin) menyimpulkan teknologi listrik pada kendaraan menunjukan penghematan bahan bakar.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan pada mobil hybrid sanggup menghemat bahan bakar 50 persen dibanding mobil mesin konvensional. Sedangkan pada plug-in hybrid penghematan mencapai 75 - 80 persen.
"Artimya kalau B20 (Biosdiesel 20 persen) saja bisa menghemat sekitar 6 juta kilo liter maka dengan hybrid atau plug-in hybrid akan dua kali penghematannya," kata Airlangga di kantornya, Selasa (6/11).
Setelah riset konsumsi bahan bakar, selanjutnya akan dilakukan riset lanjutan oleh tiga universitas lainnya, yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Udayana, dan Institus Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Nantinya, data-data yang terkumpul akan dianalisa dan disimpulkan untuk menjadi referensi bagi Kemenperin. Riset tahap kedua dijadwalkan berakhir Januari tahun depan. (ryh/fea)