Hal ini menimbulkan keresahan masyarakat yang menyangka kalau data pribadi yang mereka setor saat registrasi kartu prabayar disalahgunakan. Ia juga curiga apakah ini adalah permainan nakal dari penyedia konten (content provider-CP) seperti diposkan oleh Hairuddin Ali.
Sebab biasanya penyedia konten juga kerap mengirimkan SMS broadcast kepada pelanggan. Namun, pengamat keamanan siber dari Vaksin.com, Alfons Tanujaya menyebut bahwa kemungkinan besar dilakukan oleh agensi iklan dan bukan karena kebocoran data registrasi kartu prabayar dari penyedia layanan telekomunikasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akun Lambe Tekno juga menginterpretasikan adanya SMS ini sebagai kerentanan data pribadi dan menghubungkannya dengan registrasi kartu SIM yang seharusnya membuat data pengguna lebih aman.
Namun menurut Alfons, bahwa data ponsel pengguna saat ini tidak sulit untuk didapat. Data itu sudah lazim beredar diantara para telemarketer.
"Kalau nomor biasanya tidak sulit dapatkan, karena memang antar telemarketer sudah beredar nomor-nomor HP [...] dan mereka kebanyakan saling share (berbagi) database," tambahnya.
Data KTP
CNNIndonesia juga sempat mendapat SMS yang sama. Isi SMS memang sengaja dibuat agar penerima terkejut dan didorong oleh rasa penasaran untuk mengklik tautan yang diberikan bersama dengan SMS itu. Padahal menurut Alfons ini adalah trik agar pengguna membuka tautan tersebut.
Lihat juga:Pengguna Ponsel Lebih Mudah Ditipu |
"Kemungkinan besar tujuan utamanya adalah supaya penerima scam menginstal aplikasi DanaRupiah tersebut dan menghubungi DanaRupiah untuk memastikan apakah benar datanya telah digunakan untuk peminjaman," tandasnya lagi.
Tujuannya, agar aplikasi layanan peminjaman online ini diinstal oleh banyak orang. Alfons juga menganalisa bahwa yang akan mendapat keuntungan terbesar dari SMS scam ini adalah pembuat SMS tersebut. Ia memperkirakan pembuat SMS akan mendapat keuntungan finansial setiap kali aplikasi diinstal.
Lebih lanjut, Alfons menyebut bahwa tindakan membuat scam seperti ini seharusnya bisa dilacak oleh cybercrime Polri dengan menghubungi operator. Keduanya lantas bisa melacak siapa yang ada di belakang SMS yang meresahkan ini.
Namun Alfons menegaskan bahwa tidak ada bahaya malware dari aksi ini. Sebab pelaku penyebar malware biasanya melakukan aksinya secara sembunyi-sembunyi. (evn/eks)