Para peneliti diminta untuk mencari tahu bagaimana peredaran berita palsu itu beredar. Saat mengumumkan kompetisi ini pada Juli lalu, WhatsApp menerima lebih dari 600 proposal kiriman berbagai tim riset di seluruh dunia.
Peneliti Utama WhatsApp Mrinalini Rao mengakui bahwa masalah hoaks merupakan tantangan jangka panjang. Ia juga menambahkan bahwa studi penelitian tersebut membantu perusahaan untuk membangun pembaruan di platform WhatsApp.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat maraknya penyebaran berita palsu tersebut, WhatsApp mengakui keterbatasannya dalam mengendalikan platform miliknya.
Lihat juga:Tentara Siber, Hoaks, dan Kampanye Politik |
20 penerima penghargaan yang totalnya sebesar US$1 juta ini diberikan kepada berbagai negara, seperti India, Indonesia, dan Brazil. Hadiah tersebut diberikan kepada penilitian yang memiliki kredibilitas dan keterkaitan dengan pemrosesan informasi konten yang bermasalah.
WhatsApp dikabarkan akan berfokus pada pada upaya mendidik para penggunanya dalam mengatasi penyalahgunaan pada platformnya. Sejauh ini perusahaan sudah mulai menjalankan kampanye di India, seperti iklan di media cetak, online, dan radio, seperti dilaporkan Indian Express.