Tentara Siber, Hoaks, dan Kampanye Politik

CNN Indonesia | Rabu, 14/11/2018 05:54 WIB
Tentara Siber, Hoaks, dan Kampanye Politik Ilustrasi (CNN Indonesia/HYG)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jumlah negara yang menggunakan propaganda menggunakan tentara siber meningkat menjadi 48 di 2018 dari 28 negara pada 2017. Propaganda ini dilakukan dengan mengerahkan manipulasi lewat media sosial oleh pemerintah atau partai politik. Kegiatan tentara siber ini berkaitan dengan pemilu, seperti diungkap studi dari Universitas Oxford.

"Dari temuan kami sejauh ini, tim biasanya membentuk kampanye politik dan menghilang ketika (pemilu) selesai)," jelas tim penulis penelitian Samantha Bradshaw seperti dikutip Quartz.

Studi ini dilakukan berdasarkan analisa sistematis dari berita lokal, laporan aktivitas tentara siber, peninjauan mendalam literatur sekunder, dan konsultasi dengan ahli di negara itu.


Para peneliti juga menemukan contoh bahwa para juru kampanye politik di India menyewa hubungan masyarakat atau perusahaan konsultan untuk menyebarkan propaganda daring. Parpol juga dilaporkan mendirikan ribuan kelompok WhatsApp untuk dapat menjangkau pemilih mereka.


Sebab, terdapat 200 juta pengguna WhatsApp di India dari total 1,3 miliar penduduk di negara itu. Ini adalah aplikasi perpesanan yang paling banyak digunakan di India, sehingga efektif untuk menyampaikan pesan.

Tidak hanya melalui WhatsApp, Twitter juga digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan sebuah berita bohong di negara itu. Para peneliti menemukan bahwa partai politik India menggunakan akun palsu atau bot untuk membantu me-retweet, like, dan juga membagikan konten yang sudah mereka buat.

Dengan begitu, seluruh cuitan yang sudah dibuatnya akan lebih mudah menjadi sebuah tren.

Efektifnya berita palsu di India membuat sebagian besar orang India kesulitan membedakan hoaks. Hampir 72 persen orang di India berjuang untuk membedakan infromasi yang tersebar di media sosial mereka dengan fakta-fakta yang ada.

Studi BBC juga menemukan bahwa 80 responden yang diwawancara hanya membuat sedikit usaha untuk menemukan sumber asli dari apa yang mereka temukan. Hal ini kerap berujung pada kematian di India, akibat warga yang terhasut berita bohong lantas menganiaya orang lain hingga tewas. Setidaknya 32 orang telah tewas akibat peristiwa ini.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh BBC juga menunjukkan bahwa hampir 37 persen informasi yang dikirimkan lewat WhatsApp memiliki unsur "penipuan (scam) dan menebar ketakutan" tentang teknologi dan konspirasi. Sementara 30 persen pesan lain yang dikirimkan lewat WhatsApp dikategorikan nasionalisme, cerita keseharian, dan penyelamatan budaya.



(jef/eks)