Analisis

Teka Teki di Balik Kematian Paus Terdampar di Wakatobi

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Kamis, 22/11/2018 09:32 WIB
Ilustrasi paus terdampar. (Foto: REUTERS/Lucy Nicholson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Senin pagi (19/11), warga setempat dikagetkan dengan sesosok bangkai paus sepanjang 9,5 meter di perairan Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sosok raga ini ternyata adalah seekor ikan paus. Ketika ditemukan,
paus sudah dalam kondisi tak bernyawa.

Warga setempat menemukan dan melihat jasad paus yang berpotensi menghasilkan uang lewat minyaknya. Tak menunggu lama, warga kemudian sibuk menyayat beberapa bagian paus untuk diambil minyaknya.

Saat ditemukan oleh peneliti, paus yang mati setelah memakan 5,9 kilogram sampah dalam kondisi yang sudah tidak utuh dengan perut mulai membusuk. Ketika dibelah, peneliti menemukan tumpukan sampah ribuan tali rafia, ratusan gelas plastik, hingga sandal jepit, dan sampah plastik lainnya.


Berdasarkan hasil identifikasi, yang dilakukan Akademi Komunitas Perikanan dan Kelautan Wakatobi, sampah di dalam perut paus terdiri atas sampah gelas plastik 750 gram (115 buah), plastik keras 140 gram (19 buah), botol plastik 150 gram (4 buah), kantong plastik 260 gram (25 buah), serpihan kayu 740 gram (6 potong), sandal jepit 270 gram (2 buah), karung nilon 200 gram (1 potong), tali rafia 3.260 gram (lebih dari 1000 potong).



Kendati demikian, Koordinator Komunikasi Marine dan Fisehries World Wildlife Fund (WWF) Indonesia Dwi Aryo menjelaskan sampah diduga jadi pelaku utama kematian paus. Kendati hal ini belum dapat disebut sebagai faktor utama, Aryo mengatakan para ahli akan melakukan nekropsi atau autopsi lantaran kondisi paus yang kian membusuk. Dapat dikatakan hingga kini penyebab kematian paus masih misterius.

"Pada saat itu tidak sempat dilakukan nekropsi, otopsi pada hewan itu bisa menentukan penyebab kematian. Ahli kami hanya bisa analisa dari foto yang dikirimkan dari tim lapangan. di dalam foto itu  tidak jelas sebaran plastik di dalam saluran pencernaan paus," kata Aryo kepada CNNIndonesia.com, Rabu (21/11).

xxxPaus terdampar dengan kondisi perut dipenuhi sampah plastik. (Foto: Thailand's Department of Marine and Coastal Resources/Social Media/via REUTERS)

Aryo mengatakan nekropsi bisa mengungkap penyebab kematian paus. Pasalnya apabila hanya berdasarkan foto-foto dari tim lapangan, para ahli tidak dapat melihat apakah sampah plastik tersebut menyumbat saluran pencernaan atau tidak.

"Paus sudah mati dan membusuk level 4. Level 1 dan 2 itu segar masih bisa otopsi atau sampel. Masuk ke level 3 dan level 4 itu membusuk dan tidak utuh. Ketika itu tindakan yang harus dilakukan adalah penguburan atau pemusnahan bangkai," ujarnya.

Para ahli tidak bisa melakukan nekropsis karena kondisi bangkai paus sudah membusuk dan tidak utuh karena mulai terurai. Untuk menentukan penyebab kematian, peneliti membutuhkan jasad yang masih segar sehingga bisa menentukan penyebab paus ini mati. 

"Ketika kondisi baru saja mati, jadi bisa ketahuan organ mana yang menyebabkan kematian. Apabila ada infeksi atau penyumbatan tertentu bisa terlihat kalau dalam keadaan organ masih segar. Akan tetapi kalau busuk, sudah tidak kelihatan," kata Aryo. (evn)

1 dari 2