Analisis

Teka Teki di Balik Kematian Paus Terdampar di Wakatobi

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Kamis, 22/11/2018 09:32 WIB
Kemampuan alamiah memuntahkan makanan Ilustrasi paus terdampar. (Foto: AFP PHOTO / Chaideer MAHYUDDIN)

Kemampuan alamiah memuntahkan makanan

Secara alamiah, paus sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengeluarkan benda asing yang tertelan. Hanya saja, proses alamiah ini bisa terjadi jika saluran pencernaan tidak tersumbat.

"Secara ilmiah makhluk hidup ketika menelan atau konsumsi benda asing ke dalam tubuhnya  secara alami bisa mengeluarkan benda tersebut. Apabila dalam kadar dan jumlah relatif sedikit," jelasnya.

Aryo menjelaskan paus sebenarnya memang rentan menelan sampah plastik. Hal itu lantaran mamalia air ini kerap kesulitan membedakan antara makanan dengan sampah plastik. Oleh karena itu, kelihatannya paus tidak bisa berhenti mengonsumsi sampah plastik.


"Biasanya plastik dianggap makanan, jadi langsung ditelan. Beberapa tempat bahkan sempat memuntahkan sampah plastik," ucapnya.

Lebih jauh, Aryo mengatakan pihaknya belum mengetahui apakah paus mati setelah atau sebelum terdampak. Apabila mati setelah terdampak, maka penyebabnya bisa disebabkan karena disorientasi sistem navigasi.

"Banyak kejadian paus terdampar karena disorientasi yang dikarenakan adanya aktivitas seismik atau penggunaan sonar. Ini bisa terjadi secara alami atau terjadi apabila penggunaan peralatan yang bisa menggunakan sonar. Itu mengganggu navigasi mereka dan terdampar," jelasnya.

Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen

Situasi Memprihatinkan

Di luar misteri penyebab kematian yang masih belum jelas, temuan sampah plasti di dalam perut paus sangat memprihatinkan. Aryo menjelaskan permasalahan polusi plastik merupakan masalah global.

Karakteristik paus sebagai hewan yang 'hobi' berjalan-jalan mengitari dunia untuk bermigrasi sangat rentan dengan permasalahan polusi plastik di dunia. Oleh karena itu, Indonesia diminta mengambil langkah untuk menanggulangi masalah pencemaran plastik.

"Sangat memprihatinkan, pada tahun 2015 data Jambeck Indonesia adalah kontributor penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia dengan hampir 187,2 juta ton per tahunnya," jelasnya.

Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah China yang mencapai 262,9 juta ton.

Sementara Filipina berada di urutan ketiga penghasil sampah plastik ke laut mencapai 83,4 juta ton, diikuti Vietnam sebanyak 55,9 juta ton, dan Sri Lanka dengan 14,6 juta ton per tahun. (evn)
2 dari 2