"Secara ilmiah makhluk hidup ketika menelan atau konsumsi benda asing ke dalam tubuhnya secara alami bisa mengeluarkan benda tersebut. Apabila dalam kadar dan jumlah relatif sedikit," jelasnya.
Aryo menjelaskan paus sebenarnya memang rentan menelan sampah plastik. Hal itu lantaran mamalia air ini kerap kesulitan membedakan antara makanan dengan sampah plastik. Oleh karena itu, kelihatannya paus tidak bisa berhenti mengonsumsi sampah plastik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih jauh, Aryo mengatakan pihaknya belum mengetahui apakah paus mati setelah atau sebelum terdampak. Apabila mati setelah terdampak, maka penyebabnya bisa disebabkan karena disorientasi sistem navigasi.
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen |
Situasi Memprihatinkan
Di luar misteri penyebab kematian yang masih belum jelas, temuan sampah plasti di dalam perut paus sangat memprihatinkan. Aryo menjelaskan permasalahan polusi plastik merupakan masalah global.
Karakteristik paus sebagai hewan yang 'hobi' berjalan-jalan mengitari dunia untuk bermigrasi sangat rentan dengan permasalahan polusi plastik di dunia. Oleh karena itu, Indonesia diminta mengambil langkah untuk menanggulangi masalah pencemaran plastik.
"Sangat memprihatinkan, pada tahun 2015 data Jambeck Indonesia adalah kontributor penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia dengan hampir 187,2 juta ton per tahunnya," jelasnya.
Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah China yang mencapai 262,9 juta ton.
Sementara Filipina berada di urutan ketiga penghasil sampah plastik ke laut mencapai 83,4 juta ton, diikuti Vietnam sebanyak 55,9 juta ton, dan Sri Lanka dengan 14,6 juta ton per tahun. (evn)
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen
Paus terdampar dengan kondisi perut dipenuhi sampah plastik. (Foto: Thailand's Department of Marine and Coastal Resources/Social Media/via REUTERS)