Asal Muasal Gelar 'Le Cost Cutter' buat Carlos Ghosn

CNN Indonesia | Kamis, 22/11/2018 10:14 WIB
Asal Muasal Gelar 'Le Cost Cutter' buat Carlos Ghosn Carlos Ghosn. (Foto: REUTERS/Regis Duvignau)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Bos segala bos" di aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi, Carlos Ghosn, punya banyak gelar, salah satunya 'Le Cost Cutter' yang menandai kesuksesannya menangani Nissan saat di ujung tanduk.

Ghosn merupakan salah satu tokoh otomotif besar. Dia adalah pemimpin tiga perusahaan berbeda, yaitu Nissan, Renault dan Mitsubishi.

Aliansi ini telah mempekerjakan lebih dari 470 ribu orang, mengoperasikan 122 pabrik, dan menjual 10,6 juta unit mobil pada 2017. Sebanyak 10 persen mobil baru yang diproduksi di dunia pada tahun lalu berasal dari aliansi ini.


Jauh sebelum tertangkap oleh otoritas Jepang karena diduga melakukan pelanggaran pernyataan finansial dan memanfaatkan aset Nissan untuk kepentingan pribadi pada Senin (19/11), karier Ghosn dimulai saat menjadi bagian perusahaan ban asal Prancis, Michelin.

Pada 1981 Ghosn menjadi Plant Manager di pabrik Michelin di Le Puy, Prancis. Dia juga pernah menjadi Head of R&D Michelin (1984), kemudian dipercaya sebagai Chief Operating Officer Michelin Amerika Selatan (1985) serta Chairman dan Chief Executive Officer Michelin Amerika Utara (1990).

Berprestasi di Michelin bikin perusahaan asal Prancis lainnya, Renault, kepincut Ghosn. Pada 1996, Ghosn menduduki jabatan penting yaitu Executive Vice President Renault. Dari ini namanya semakin dikenal.

Pada 1999 Renault beraliansi dengan Nissan. Pada tahun ini juga Ghosn menjadi Chief Operating Officer Nissan.

Bila tidak diselamatkan Renault, mungkin Nissan bangkrut. Setelah dipegang Ghosn, Nissan bukan hanya selamat tetapi juga meraih keuntungan langsung pada tahun pertama.

Di Nissan, kerja Ghosn dianggap tidak seperti kebiasaan Jepang. Dia memulainya dengan memutus hubungan kerja 21 ribu orang, menutup lima pabrik, menjual operasi yang tidak diperlukan, memutus beberapa pemasok, memecat orang yang kurang berprestasi, dan kadang-kadang menjalankan perusahaan dengan caranya sendiri.

Dari situlah gelar 'Le Cost Cutter' diberikan buat Ghosn. Secara harfiah julukan itu artinya pemangkas biaya produksi.

Bukan hanya soal pabrik, Ghosn juga mengubah portfolio produk Nissan menggunakan 'kamus' Renault. Berbagai macam produk yang dianggap kurang menguntungkan langsung diberikan surat buat pensiun.

Ghosn juga melakukan pengurangan platform, meningkatkan suku cadang dengan membelinya dari Renault, dan pada akhirnya menanamkan modal besar untuk mengembangkan kendaraan listrik, seperti Leaf.

Setelah diambil alih Ghosn, Nissan akhirnya memiliki laba bersih $2,8 miliar. Sebelumnya Nissan merugi $5,7 miliar.

Ghosn kerap dikaitkan Lee lacocca, seorang eksekutif industri asal Amerika Serikat yang berhasil membangkitkan Chrysler setelah hampir menuju kebangkrutan pada 1970-an.

Catatan karier Ghosn:
2017 - Chairman of the Board, Nissan
2016 - Chairman of the Board, Mitsubishi Motors
2013 - Chairman of AVTOVAZ, Rusia
2009 - Chairman of the Board of Directors, President and Chief Executive Officer, Renault
2008 - Chairman of the Board of Directors, President and Chief Executive Officer, Nissan
2005 - President and Chief Executive Officer, Renault
2003 - Co-Chairman of the Board of Directors, President and Chief Executive Officer, Nissan
2001 - President and Chief Executive Officer, Nissan
2000 - President and Chief Operating Officer, Nissan
1999 - Chief Operating Officer, Nissan
1996 - Executive Vice President, Renault.
1990 - Chairman and Chief Executive Officer, Michelin North America.
1985 - Chief Operating Officer, South American operations, Michelin, Brasil
1984 - Head of R&D for Michelin, Prancis
1981 - Plant manager, Pabrik Le Puy Michelin, Prancis (ryh/fea)