Ismail mengatakan pihaknya membagi dua frekuensi menjadi frekuensi berizin dan tak berizin. Khusus untuk yang berizin, ia mengatakan operator saat ini sudah bisa menerapkan IoT di frekuensi yang berdekatan dengan milik masing-masing.
"Kami akan terapkan nanti akhir tahun ini kita canangkan. Bulan depan, untuk frekuensi dan teknisnya. Saat ini IoT sedang trial, kalau beres itu sudah bisa dirilis yang unlicensed," kata Ismail di kantor Indosat Ooredoo, Kamis (22/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ismail mengatakan untuk frekuensi tak berizin kini sudah berada di rentang rentang 919MHz hingga 923MHz. Sebelumnya dalam uji coba, rentangnya masih 919- 925 MHz.
Seperti diketahui, tiga operator seluler yakni Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat Ooredoo telah menggelar uji coba 5G. Menanggapi hal tersebut, Ismail berharap secara perlahan 5G bisa diimplementasikan di Indonesia.
Ia mengaku optimis teknologi 5G bisa mendorong wacana industri 4.0 yang menrapkan otomasi mesin mealui IoT didukung internet berkecepatan tinggi. Disamping itu, teknlogi 5G diyaknini bisa membuka perkembangan teknologi baru, mulai dari mobil otonom, augmented reality, hingga otomasi mesin.
Oleh karena itu Ismail mengatakan peta jalan jaringan 5G akan berbeda dengan peta jalan jaringan internet sebelumnya. Pasalnya jaringan ini tidak hanya diperuntukkan untuk pengalaman pengguna berselancar, tapi juga bisa digunakan untuk kepentingan-kepentingan lainnya.
"Beberapa aplikasi yang tidak bisa dipakai kalau tidak ada 5G. Jadi harus dipakai latensi kecil, contohnya mobil tanpa sopir," ujarnya. (jnp/evn)