Analisis

Kamera Ponsel Multi Lensa, Kebutuhan atau Sekedar Ikut-ikutan

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Senin, 26/11/2018 16:38 WIB
Kamera Ponsel Multi Lensa, Kebutuhan atau Sekedar Ikut-ikutan Samsung Galaxy A9 dibeali empat kamera belakang. (Foto: CNN Indonesia/Kustin Ayuwuragil)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tren kamera belakang lebih dari satu berawal dari keputusan Apple menyematkan dua kamera pada iPhone 7 Plus yang dirilis dua tahun lalu. Sejak saat itu hingga kini, sejumlah vendor berlomba-lomba membenamkan dua, tiga, hingga empat kamera pada ponsel mereka.

LG dan Samsung menjadi dua produsen yang mulai menempuh langkah merilis ponsel lebih dari dua kamera. LG V40 ThinQ memiliki tiga kamera punggung di belakang dan dua kamera di depan. Sedangkan rivalnya, Samsung tak mau kalah menyematkan empat kamera pada ponsel segmen menengah Galaxy A9.

Melihat fenomena tersebut, pengamat gadget Herry SW menilainya sebagai sebuah gimmick marketing saja. Meski di sisi lain, ia menuturukan jika vendor memang wajib menawarkan sesuatu yang menakjubkan bagi konsumen, terlebih bagi mereka yang belum loyal pada merek tertentu.


"Untuk menyasar konsumen yang peka harga dan sebenarnya tidak terlalu loyal dengan suatu merek, langkah termudah (juga paling murah) adalah beradu besar kapasitas memori, khususnya RAM," papar Herry melalui pesan singkat, Senin (26/11).

Sementara untuk pengguna yang tidak terlalu peka harga, Herry mengatakan kelompok tersebut biasanya bersedia saja mengeluarkan uang lebih banyak. Atas alasan itu, maka vendor kemudian putar otak dengan cara mengutak-atik fitur kamera.

Dibandingkan fitur lain, alasan kamera 'diutak-atik' oleh produsen lantaran kni telah menjadi kebutuhan utama pengguna ponsel. Terlebih bagi pengguna yang rutin menggunggah hasil foto ke media sosial.

Menurutnya, produsen seperti halnya Samsung menangkap peluang itu dengan menawarkan sesuatu yang beda misalnya dengan kemunculan kamera belakang dengan tiga, empat, hingga puluhan lensa kedepannya. Adanya kamera yang banyak tak hanya membuat produk menjadi terlihat unik dan canggih bagi sebagian kalangan, tetapi juga bisa mengakomodir kebutuhan pengguna.

"Intinya, baik adu besar RAM maupun adu banyak kamera sebenarnya untuk memberikan gimmick marketing. Bedanya, yang kamera itu lebih bermanfaat dan membutuhkan proses pengembangan yang lebih kompleks daripada sekadar menambah kapasitas RAM," jelasnya.

Kamera Ponsel Multilensa, Kebutuhan atau Sekedar Ikut-ikutanApple menjadi pencetus kamera ganda lewat iPhone 7 Plus. (Foto: CNN indonesia/Suryanda Suryono)

Tes pasar yang potensial

Kemunculan empat kamera pada ponsel segmen menengah Samsung Galaxy A9 sekedar strategi 'tes pasar' untuk melihat respons pasar.

"Saya melihat Samsung pun sebenarnya juga ingin mengetes pasar. Karena itu, empat kamera itu dicoba di seri A dulu. Tidak langsung di seri S dan Note. Kalau sukses di seri A, baru deh diimplementasikan di seri S dan Note," terangnya.

Selain disebut memenuhi kebutuhan dan keingin pengguna, Herry mengatakan kemunculan ponsel dengan kamera 'beranak' bisa menciptakan kebutuhan dan proses baru.

Di sisi lain, analis lembaga riset IDC Risky Febian mengungkapkan pengguna ponsel memang menyukai dual atau multi kamera di punggung ponsel. Hal tersebut diperoleh dari hasil survei konsumen 2018 yang baru-baru ini dilakukan IDC.

Kamera Ponsel Multilensa, Kebutuhan atau Sekedar Ikut-ikutanSamsung Galaxy A7 dengan tiga kamera belakang. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)

Rizky mengatakan, langkah Samsung merilis ponsel multi kamera sebagai strategi yang bisa mengikuti keinginan pasar.

"Dari konsumen yang disurvei di sini, kurang lebih 62 persen lebih memlih ponsel dual kamera atau lebih. Sementara hanya 23 persen yang lebih memilih single lensa. Sisanya menganggap jumlah kamera tidak penting," jelasnya melalui pesan singkat.

Sebagai pemimpin di pasar ponsel pintar, Rizky mengatakan langkah Samsung merilis empat kamera bisa berpeluang menciptakan tren baru. Ia mengaku optimis kompetitor mengikuti langkah serupa, sama halnya dengan tren notch yang diinisiasi Apple dan diikuti oleh para pesaingnya.

"Ketika salah satu pemimpin pasar global mengawalinya, mestinya merek lain bakal mengikuti," ucapnya.

Strategi mensontek langkah yang dilakukan dilakukan agar tak dinilai ketinggalan di mata konsumen. Kesimpulan tersebut ditarik berdasarkan survei yang dilakukan kepada konsumen.

"Salah satu alasan yang paling banyak muncul dari survey konsumen adalah mereka lebih prefer dual camera atau lebih karena dari sisi design lebih up-to-date. Jadi menurut saya ketika ada brand besar seperti Samsung atau Apple yg memulai trend multi-lens tersebut, maka brand-brand lainnya akan berusaha untuk tidak tertinggal," jelasnya.

Kendati demikian, jumlah kamera di ponsel tentu harus ada batasannya. Jika buan karena demi alasan desain, pengguna juga akan bertanya-tanya mengenai esensi kehadiran kamera yang berlebihan.

Menyoal hal ini, Herry menjelaskan berdasarkan estetika jumlah maksimal kamera yang melekat pada kamera sebaiknya dibatasi maksimal lima. Bagi vendor yang ingin menyematkan enam atau lebih kamera, hal ini harus melalui pertimbangan yang matang.

"Lima itu sudah super banyak. Kalau mau ditambahkan lensa keenam, untuk lensa apa? Lensa monokrom? Bisa juga sih. Namun, lagi-lagi apakah perlu? Secara estetika desain juga bakal terlihat kurang cantik seolah bodi belakang ponselnya banyak jerawat," ungkapnya. (evn)