Tsunami Anyer dan Lampung Bukan Dipicu Gempa Bumi

CNN Indonesia | Minggu, 23/12/2018 07:56 WIB
Tsunami Anyer dan Lampung Bukan Dipicu Gempa Bumi Ilustrasi. (WikiImages/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keterangan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (23/12) menyebutkan bahwa peristiwa tsunami di Pantai Barat Banten tidak dipicu oleh gempa bumi.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati, dalam keterangan resmi tersebut mengatakan bahwa peristiwa tsunami yang terjadi pada Sabtu (22/12) pukul 21.27 WIB merupakan gelombang tinggi yang dipicu karena cuaca. 

Sebelum terjadi tsunami, BMKG sudah memberikan peringatan dini akan terjadinya gelombang tinggi di wilayah perairan Selat Sunda yang berlaku sejak tanggal 22 hingga 25 Desember 2018.


Laporan dari tim lapangan BMKG juga menambahkan bahwa gelombang tinggi pada Sabtu diperparah oleh hujan lebat dan angin kencang yang terjadi di perairan Anyer sejak pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.

Berdasarkan pengamatan tidegauge (sementara), terjadi tsunami di empat lokasi di Banten dan Lampung.

Di Banten yang tercatat yakni Tidegauge Serang di Pantai Jambu, Desa Bulakan, Kec Cinangka, Kab Serang (tercatat pukul 21.27 WIB ketinggian 0.9 m) serta Tidegauge Banten di pelabuhan Ciwandan, kecamatan Ciwandan (tercatat pukul 21.33 WIB ketinggian 0.35 m).

Lalu di Lampung tercatat Tidegauge Kota Agung di Desa Kota Agung, Kec Kota Agung, Lampung (tercatat pukul
21.35 WIB ketinggian 0.36 m) serta Tidegauge Pelabuhan Panjang Kec Panjang Kota Bandar Lampung (tercatat pukul 21.53 WIB ketinggian 0.28 m).

Gelombang tinggi dan Gunung Anak Krakatau

Mengenai gelombang tinggi dan Gunung Anak Krakatau, Badan Geologi melaporkan bahwa pada pukul 21.03 WIB sempat terjadi erupsi Gunung Krakatau sehingga peralatan seismometer setempat rusak.

Namun seismic Stasiun Sertung merekam adanya getaran tremor terus menerus, tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigakan.

Berdasarkan rekaman seismik dan laporan masyarakat, peristiwa ini tidak disebabkan oleh aktifitas gempa bumi tektonik, namun sensor Cigeulis (CGJI) mencatat adanya aktivitas seismik dengan durasi ± 24 detik dengan frekwensi 8-16 Hz pada pukul 21.03.24 WIB.

"Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Juga diimbau untuk tetap menjauh dari pantai perairan Selat Sunda, hingga ada perkembangan informasi dari BMKG dan Badan Geologi," kata Dwikorita.

(rds/ard)