Saat ini, para partai politik bergabung menjadi tim dua kampanye yakni Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo - Ma'ruf Amin dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.
Para perwakilan tim kampanye membagikan strategi dan pandangan mereka dari mulai media sosial hingga buzzer.
Direktur Informasi dan Publikasi TKN Jokowi Ma'aruf Amin, Kiki Taher mengungkapkan cara berkomunikasi melalui media sosial kuncinya adalah satu koordinasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengatasi Hoaks
Sejalan dengan itu, anggota gugus informasi TKN Ridlwan Habib mengungkapkan secara mendetail bagaimana strategi TKN menggunakan media sosial, melempar isu hingga mengatasi hoaks.
Namun, terkait penggunaan buzzer, dia menegaskan rata-rata partai politik memiliki tim media sosial.
Jokowi dalam satu kegiatan ke pasar. (Foto: CNN Indonesia/Christie Stefanie) |
Sementara itu, mengenai strategi media sosial, Jokowi sendiri dengan adanya relawan sejak 2014 maka sudah sangat lekat dengan media sosial.
"Apapun itu, baik di Garda Jokowi, Projo, Setnas Jokowi, kan banyak itu nama-namanya, macam-macam. Mereka memang main medsos, mereka ini bermain medsos," tegas Ridlwan.
Lebih lanjut, TKN memiliki berbagai tugas salah satu yang dibagikan adalah mengenai distribusi isu dan konten. Salah satu contoh konten umum misalnya tagar #01IndonesiaMaju atau #01JokowiLagi.
"Nah, itu wajib disertakan dalam setiap unggahan, karena ini sudah diperintahkan langsung oleh Jokowi bahwa tagar kita itu," kisahnya.
Sementara itu permainan trending topic, TKN bergerak fleksibel bisa berasal dari usulan ringan dan spontan tim.
Dia pun melihat patokan sederhana untuk melihat isu viral seperti parameter Twitter. Dari Twitter, Ridlwan mengaku melihat trending topic hingga cuitan para influencer yang dipantau. Sedangkan di Instagram dan Facebook lebih ke foto dan engagement.
Ridlwan mencontohkan salah satu kejadian yakni mengenai harga di pasar ketika salah satu calon berkunjung ke pasar tradisional.
"Kami cek di Twitter viral tidak. Jika viral, akan kami sampaikan ke tim darat untuk cek pasar di sekitar. Benar tidak mengenai harga. Jika tidak dan harga stabil. Maka kami akan mainkan harga stabil," kisahnya.
Kasus harga di pasar ini masih akan berlanjut hingga akhirnya Jokowi turun ke pasar untuk cek harga sendiri.
"Ini adalah kerja sinergi antara teman di darat dan di media sosial. Kami di media sosial tidak ada target mencari suara. Kami targetnya opini publik, berbeda dengan yang di darat," tambah Ridlwan.
Diketahui, Jokowi sempat mendatangi sejumlah pasar untuk mengecek harga sembako yang dikabarkan meningkat dibandingkan harga sebelumnya.
Gejala ini merupakan orang sudah tidak peduli itu fakta atau bukan, selama publik suka maka mereka akan mempercayai itu.
"Misalnya riset internal baru-baru ini kami menemukan bagi mereka yang tidak setuju Jokowi, fakta-fakta pemerintahan Jokowi itu dinilai hoaks. Fakta pemerintahan valid bagi mereka itu hoaks," ungkap Ridlwan.
Dia menegaskan timnya tidak melakukan kampanye 'hitam' tersebut karena menghindari konflik sipil.
Tim Prabowo
Sementara itu, dari Kepala Media Center BPN Prabowo-Sandi, Ariseno Ridhwan mengaku dari tim mereka pun yak menggunakan buzzer bayaran.
"Kalau bicara buzzer BPN tidak punya buzzer bayaran. Kalaupun ada, tanda kutip buzzzer ini adalah relawan-relawan. Mereka organik, terpencar, ada beberapa yang misalnya pride (nama relawan). Ada yang koordinasi, tapi ada juga yang tidak koordinasi," jelasnya pada CNNIndonesia.com.
Ariseno menilai mengenai penggunaan buzzer itu relatif, pasalnya kalau dirasa perlu tidak apa-apa.
Kegiatan Prabowo di Ambon, Maluku. (Foto: Tim Internal Prabowo Subianto) |
Terkait penyebaran hoaks dan kampanye hitam, dia menegaskan timnya tidak mendorong untuk melakukan itu.
"Penyebaran berita hoaks tidak terkontrol. Tapi kami intinya tidak mendorong kampanye hitam. Kampanye negatif berdasarkan data iya, tapi kami tidak menggunakan kampanye hitam," ungkapnya.
(age/asa)
Jokowi dalam satu kegiatan ke pasar. (Foto: CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Kegiatan Prabowo di Ambon, Maluku. (Foto: Tim Internal Prabowo Subianto)