Kampus AS Peringatkan Tak Pakai WeChat dan WhatsApp di China

CNN Indonesia | Senin, 14/01/2019 12:45 WIB
Kampus AS Peringatkan Tak Pakai WeChat dan WhatsApp di China Ilustrasi (Istockphoto/Andriano_cz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Universitas California telah memperingatkan mahasiswanya untuk tidak menggunakan layanan pesan instan WeChat dan WhatsApp, serta media sosial saat mengunjungi China. Kampus yang memiliki jaringan terbesar di Amerika Serikat ini khawatir komunikasi mereka itu akan dimata-matai pemerintah China dan menjadi alasan mereka tak pulang kembali ke AS.

"Meski penggunaan WhatsApp dan WeChat dilegalkan di China, kami telah melihat tuduhan mata-mata terhadap warga AS di Rusia lewat bukti yang didapat dari WhatsApp," tulis surel yang dilihat CNN.

Bulan lalu, seorang warga negara AS, Paul Whelan, ditangkap di Rusia atas dugaan mata-mata.


"Kami khawatir China bisa menggunakan cara serupa terhadap pelancong dari barat untuk menuduh atau sebagai alasan untuk menolak kepulangan. Saat ini, Kami merekomendasikan untuk tidak menggunakan aplikasi perpesanan di China."

Larangan ini menyusul banyaknya warga negara Kanada yang ditahan di China. Dua diantaranya, Michael Spavor and Michael Kovrig malah tengah menjalani pemeriksaan investigatif atas aktivitas mencurigakan yang bisa membahayakan keamanan China. Tuduhan ini diduga para pendukung keduanya bermotif politis.

Penahanan ini dilakukan pemerintah China setelah Kanada menahan CFO Huawei Meng Wanzhou atas permintaan Amerika Serikat. Saat ini Meng tengah menhadapi penahanan di Vancouver dan tengah dibebaskan dengan jaminan. Ia masih menjalani kemungkinan untuk diekstradisi karena membahayakan sanksi AS terhadap Iran.

Perwakilan WhatsApp dan WeChat tidak langsung memberikan komentar atas pernyataan ini.

Juru bicara Universitas California Davis mengonfirmasi bahwa surel itu memang dikirimkan ke staf dan mahasiswa mereka. Surel serupa juga diterima oleh UC Berkeley.

Menurut Claire Doan, Direktur Hubungan Media dari Kantor Universitas California mengutarakan bahwa surel ini mereka kirim atas arahan dari World Aware, konsultan manajemen keamanan dan manajemen resiko.

China memang dikenal kurang terbuka dengan mahasiswa asing. Padahal terdapat setengah juga mahasiswa asing di negara itu. (eks/eks)