Indonesia Butuh Cetak 600 Ribu Tenaga TI Tiap Tahun

CNN Indonesia | Kamis, 17/01/2019 09:49 WIB
Indonesia Butuh Cetak 600 Ribu Tenaga TI Tiap Tahun Menkominfo Rudiantara (CNN Indonesia/Jonathan Patrick)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Komunikasi dan Informatika (MenkominfoRudiantara menyebut Indonesia membutuhkan 9 juta talenta mulai dari 2015 hingga 2030. Ini berarti tiap tahunnya negara perlu mencetak 600 ribu tenaga kerja teknologi informasi (TI), seperti dikutip dari riset McKinsey.

"McKinsey sebut gap kesediaan dan ketersediaan 2015 2030 ada 9 juta skill. Artinya sekitar 600 ribu setahun. Kami coba isi gap tersebut," ucap Menkominfo Rudiantara dalam DPR RI, pada Rapat Kerja Komisi I DPR RI dengan Menkominfo di gedung DPR, Rabu (16/1).

Secara ekosistem, pria yang dipanggil Chief RA ini mengatakan, mengatakan talenta itu dibutuhkan oleh platform perusahaan teknologi. Pada 2018 sekitar 1000 mahasiswa namun hanya 980 lulusan dan setengahnya bergabung dengan perusahaan telekomunikasi.


Untuk mengisi celah tenaga kerja ini, Kominfo telah bekerjasama dengan perusahaan teknologi global seperti Cisco dan Microsoft. Para mitra ini akan memberikan edukasi mengenai cloud computing, cybersecurity, kecerdasan buatan (AI), big data, hingga bisnis digital.

Namun kedua perusahaan ini menurut Rudi masih kesulitan soal silabus pengajaran. Sehingga mereka mengambil silabus dari luar negeri.

"Jadi minta silabus ke Jakarta. Silabus uji tiru. Kami targetkan 20 ribu mereka ikut kursus kelas di perguruan tinggi," lanjutnya.

Selain itu, Rudi juga ingin memastikan bahwa talenta ini menyebar ke seluruh Indonesia. Sehingga, program edukasi ini akan disebar ke berbagai kota.

"Ada peta detail di kota mana fokus fresh grad (lulusan baru). Di kota mana kita fokus ke SMK. Tujuannya persiapkan level tenaga kerja untuk respon industri 4.0. Ada 22 mitra politeknik negeri, ada 28 University, 18 negeri," tambahnya.

Selain itu, tahun ini Kominfo memiliki proyek percobaan untuk memberikan beasiswa kepada 1000 orang. Beasiswa ini bekerjasama dengan lima perguruan tinggi. Mereka bisa dari lulusan SMK TI, diploma maupun S1 yang berusia di bawah 29 tahun. (jnp/eks)