Satelit Jepang Melesat di Luar Angkasa Hasilkan Meteor Buatan

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 22/01/2019 13:15 WIB
Satelit Jepang Melesat di Luar Angkasa Hasilkan Meteor Buatan Ilustrasi. (REUTERS/Fabrizio Bensch)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah roket yang membawa satelit dalam misi menghadirkan hujan meteor buatan, melesat di luar angkasa pada Jumat lalu. Dilansir dari AFP, menurut ilmuwan Jepang, sebuah perusahaan baru yang berbasis di Tokyo memang sedang mengembangkan satelit mikro.

Satelit mikro ini disiapkan untuk pertunjukan di atas langit Hiroshima awal tahun depan sebagai percobaan awal dari 'bintang jatuh' buatan. Satelit itu akan melepaskan bola-bola kecil yang bersinar terang ketika meluncur dengan cepat di atmosfer. Semua ini menjadi simulasi hujan meteor.

Satelit tersebut menumpang pada roket Epsilon-4 yang berukuran kecil, yang diluncurkan dari Pusat Ruang Angkasa Uchinoura oleh Badan Eksplorasi Ruang Angkasa Jepang (JAXA) pada Jumat pagi.
Juru bicara JAXA Nobuyoshi Fujimoto mengungkapkan roket tersebut membawa total tujuh satelit ultra-kecil yang akan menunjukkan berbagai teknologi inovatif. Menjelang sore, JAXA mengkonfirmasi ketujuh satelit telah berhasil diluncurkan ke orbit.


"Saya terlalu tersentuh oleh kata-kata," Lena Okajima, Presiden Perusahaan di balik hujan meteor buatan, mengatakan kepada agensi Jiji Press.

Perusahaan ALE Co. Ltd berencana untuk memberikan pertunjukkan pertama di dunia atas Hiroshima pada musim semi 2020.

Satelit yang diluncurkan Jumat membawa 400 bola kecil yang formula kimianya rahasia dan dijaga ketat. Satelit tersebut cukup untuk sekitar 20 hingga 30 acara. Pasalnya, satu shower akan melibatkan hingga 20 bintang, menurut perusahaan.
Satelit ALE, yang dirilis 500 kilometer (310 mil) di atas Bumi, secara bertahap akan turun hingga 400 kilometer pada tahun mendatang karena mengorbit Bumi. Perusahaan berencana untuk meluncurkan satelit kedua dengan roket sektor swasta pada pertengahan 2019.

ALE mengatakan pihaknya menargetkan seluruh dunia menjadi lokasi hujan meteor buatan.

Ketika dua satelitnya berada di orbit, mereka dapat digunakan secara terpisah atau bersama-sama, dan akan diprogram untuk mengeluarkan bola di lokasi yang tepat, kecepatan, dan arah untuk menampilkan pertunjukan bagi masyarakat di bumi.
Setiap bintang diharapkan bersinar selama beberapa detik sebelum benar-benar terbakar, dan jauh sebelum 'bintang' jatuh cukup rendah untuk menimbulkan bahaya apa pun di Bumi. Mereka akan bersinar cukup terang untuk dilihat bahkan di atas kota metropolitan Tokyo yang tercemar cahaya, kata ALE.

Jika semuanya berjalan dengan baik, dan langit cerah, acara 2020 bisa terlihat oleh jutaan orang, katanya.

Okajima mengatakan perusahaannya memilih Hiroshima untuk tampilan pertama karena cuaca yang baik, lanskap, dan aset budaya. Kota Jepang bagian barat bangkit dari abu setelah pemboman atom AS tahun 1945 dan menghadap ke laut Pedalaman Seto di mana gerbang mengambang Kuil Itsukushima berada.

ALE bekerja sama dengan para ilmuwan dan insinyur di universitas-universitas Jepang serta pejabat pemerintah setempat dan sponsor perusahaan.

Hingga saat ini, belum diungkapkan harga untuk hujan meteor buatan. (age/age)