Namun ia menegaskan setidaknya pembatasan penerusan pesan ini bisa menekan penyebaran informasi hoaks.
"Kita tidak bisa address hoaks 100 persen, setidaknya kita bisa mitigasi risikonya. kita bisa memitigasi number as lower as possible," ucap Rudiantara di kantor Kemenkominfo, Senin (21/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Modus operandi hoaks itu kalau dia post di Facebook sekali, setelah itu mereka take down sendiri dan kemudian mengambil screenshot dan membagikannya di WhatsApp. Screenshot ini kemudian menyebar di WhatsApp," katanya.
Lihat juga:WhatsApp Ancam Tutup Akun Penyebar Hoaks |
"Based study WhatsApp, mereka melihat di dunia, ada negara-negara yang prioritas. Konten yang tersebar, atau situasi yang bagaimana viralitas hoaksnya harus di-address segera," tutur Rudiantara di kantor Kemenkominfo, Senin (21/1).
Rudi mengaku pihaknya mendukung kemunculan fitur tersebut untuk mengurangi informasi hoaks yang viral di kalangan pengguna internet di Indonesia.
"Victoria menyampaikan bahwa WhatsApp berikan fitur untuk membatasi jumlah forward, untuk mengurangi potensi viralnya hoaks. Kami sudah bicara sejak September 2018, tapi memang belum bicara ke teman-teman (media)," ucap pria yang kerap disapa Chief RA ini. (jnp/evn)