'Pengembangan Mobil Nasional Tak Boleh Berbau Politik'

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 24/01/2019 13:00 WIB
'Pengembangan Mobil Nasional Tak Boleh Berbau Politik' Ilustrasi. (Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Sekretaris Jenderal Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu menyarankan pasangan nomor urut dua Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno untuk membangun industri mobil nasional jika menang Pilpres 2019. Pengembangan mobil nasional yang dimaksud disebut tidak boleh penuh intrik.

Menurut Said, mobil nasional harus segera diwujudkan mengingat pasar otomotif Indonesia sangat menjanjikan. Dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) penjualan mobil 2018 mencapai 1,1 juta unit.

"Bila Prabowo-Sandi menang mobil nasional perlu dipikirkan. Karena permintaan kita besar, pasar kita besar, sumber daya alam, sumber daya manusianya kita ada," kata Said di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Rabu (23/1).


Said juga sempat menyinggung soal Esemka lantaran pernah diajak koleganya untuk ikut mempromosikan. Mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) era Presiden Joko Widodo ini mengungkapkan bahwa itu terjadi pada 2012. 

Namun, Said mengaku menolak karena mencium aroma tak sedap dari proyek mobil Esemka.

"Saya dibujuk beberapa orang untuk endorse (ikut mempublikasikan). Karena yang pencitraan bukan hanya Pak Jokowi, tapi banyak orang. Dan saya katakan itu bohong. Sebagai pengusaha mebel, mungkin saat itu Pak Jokowi beranggapan bahwa membuat mobil sama saja dengan merakit mobil. Saya katakan berbeda," ujar Said.

Lebih lanjut, Said menuturkan ada perbedaan soal bisnis mobil di masa lalu dan masa kini.

Dahulu, ia mengatakan pengembangan mobil nasional terkendala penguasaan komponen rancang bangun dari hulu hingga hilir. Sekarang, industri mobil sudah mengarah pada industri pesawat terbang di mana seluruh komponennya bisa diproduksi di seluruh dunia. 

"Tinggal kebijakannya adalah kita bikin desain sedemikian rupa sehingga bisa produksi di Indonesia. Kriterianya kita memiliki desain, nama merek dan sebagian komponennya diproduksi di Indonesia. Tidak seperti mobil Esemka yang komponennya dari luar semua," lanjut Said.

Pada kesempatan yang sama, pakar otomotif dan praktisi industri mobil Mochtar Niode berpendapat bahwa, industri mobil nasional harus diarahkan kepada mobil listrik.

"Kita memiliki seluruh bahan baku untuk produksi mobil listrik. Kita bisa open desain untuk menentukan jenis mobil apa yang cocok untuk Indonesia," ujar Mochtar.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengumumkan bahwa mobnas akan mengacu pada Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Kendaraan roda empat yang dianggap mobnas memiliki TKDN hingga 80 persen. Namun itu tidak bisa dijadikan acuan karena harus melihat kesepakatan antara pemerintah dengan produsen otomotif.

Model kendaraan yang diproduksi lokal dengan TKDN hingga 80 persen masih bisa dihitung dengan jari. Masih banyaknya manufaktur yang masih merakit kendaraan mengandalkan komponen impor. (ryh/mik)