Sebab, menurut Muhammad Firman, Head of PR, ASUS Indonesia, dengan adanya e-commerce membuat peredaran barang selundupan makin merajalela.
"Individu rumahan aja sekarang udah bisa jadi penyelundup," jelasnya lewat pesan teks ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (24/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Herry mengatakan eksistensi bisnis ponsel ilegal tetap digdaya lantaran adanya dukungan orang kuat di belakangnya.
Herry mengatakan bahkan penjual kini tak perlu lagi sembunyi-sembunyi memboyong ponsel ilegal masuk pasaran Indonesia.
"Ada yang begitu mendarat dan keluar dari pintu pesawat sudah langsung dijemput 'seseorang'. Jadi, nggak perlu lewat imigrasi dan bea cukai," ucapnya.
Flash sale luar negeri
Flash Sale seringkali menawarkan diskon besar-besaran untuk ponsel tertentu yang digadang-gadang jadi sumber ponsel selundupan (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
"Flash sale gede-gedean di Alibaba. pengusaha beli dan diselundupin [...] itu bedanya 2-3 juta," jelasnya saat ditemui di kantornya, Kamis (24/1).
Ketua Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI), Hasan Aula mengungkap harga jual ponsel selundupan ini bisa 20-30 persen lebih murah dari harga yang mereka tawarkan ke penjual ritel.
"Orang dagang jadi ngga bisa jualan bener, dealer (penjual ritel) selalu compare (bandingkan) dengan harga barang BM (black market). Harganya beda jauh, mereka pasti fokus jual barang yang lebih murah kan?" tuturnya saat dihubungi via telepon, Selasa (29/1).
Faktor lain yang ikut mendorong masuknya produk ilegal ke tanah air menurut Hasan karena vendor ponsel di Indonesia kerap terlambat melakukan peluncuran.
"Di Indonesia launch (peluncuran)-nya selalu telat, karena kita perlu TKDN dulu dan sebagainya. Selalu telat 1-3 bulan tergantung persiapan," jelasnya.
Keluhan serupa diungkap Muhammad Firman, Head of PR Asus Indonesia. Menurutnya lantaran adanya aturan TKDN mereka tak bisa seenaknya langsung meluncurkan produk baru di Indonesia. Jeda peluncuran ini menurutnya kerap dimanfaatkan oknum pedagang untuk menjual terlebih dulu.
APSI pun mencatat kerugian akibat peredaran ponsel ilegal untuk seluruh merek ponsel yang beredar di Indonesia mencapai 20-30 persen per bulan. Untuk merek tertentu, Hasan memperkirakan kerugiannya bisa mencapai 40 persen.
"Kerugian bisa 20-30 persen secara nasional. Tapi brand tertentu bisa sampai 40-50 persen [...] Contoh Xiaomi, bisa jadi 40-50 persen barangnya dari BM [...] iPhone juga lumayan gede mungkin bisa 40 persen," jelas pria yang juga menjadi Group CEO Erajaya Swasembada, distributor ponsel Indonesia yang juga menjadi penyalur iPhone.
Untuk itu APSI berharap pemerintah segera menerapkan registrasi International Mobile Equipment Identity (IMEI). (kst/evn)
Flash Sale seringkali menawarkan diskon besar-besaran untuk ponsel tertentu yang digadang-gadang jadi sumber ponsel selundupan (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)