'Rahasia Umum' Bisnis Jual Beli Ponsel BM

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 29/01/2019 13:08 WIB
'Rahasia Umum' Bisnis Jual Beli Ponsel BM Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bisnis jual beli ponsel black market atau ilegal menurut pengamat gadget Herry SW saat ini sudah menjadi rahasia umum. Peredarannya tidak hanya di toko fisik, tapi maraknya layanan e-commerce membuat penjual ponsel ilegal makin leluasa bermain. 

Sebab, menurut Muhammad Firman, Head of PR, ASUS Indonesia, dengan adanya e-commerce membuat peredaran barang selundupan makin merajalela. 

"Individu rumahan aja sekarang udah bisa jadi penyelundup," jelasnya lewat pesan teks ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (24/1). 


Disokong orang kuat

Lebih lanjut, Herry mengatakan eksistensi bisnis ponsel ilegal tetap digdaya lantaran adanya dukungan orang kuat di belakangnya.

"Sudah menjadi rahasia umum kalau banyak pemain ponsel BM yang punya backing kuat. Karena itu bisnisnya masih eksis sampai sekarang. Malahan sempat ada koperasi "angkatan" tertentu yang dikenal berhubungan dengan ponsel BM bergaransi tertentu," ujar Herry kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Rabu (23/1).

Herry mengatakan bahkan penjual kini tak perlu lagi sembunyi-sembunyi memboyong ponsel ilegal masuk pasaran Indonesia.

Bahkan menurutnya, ada 'jalur khusus' yang membuat pebisnis ponsel ilegal tak perlu melalui jalur imigrasi dan bea cukai. Setelah melalui tahapan ini, penjual bisa dengan bebas memasarkan produk dengan harga yang jauh lebih miring dari harga pasaran.

"Ada yang begitu mendarat dan keluar dari pintu pesawat sudah langsung dijemput 'seseorang'. Jadi, nggak perlu lewat imigrasi dan bea cukai," ucapnya.

Flash sale luar negeri

EMB-'Rahasia Umum' di Balik Bisnis Jual Beli Ponsel BMFlash Sale seringkali menawarkan diskon besar-besaran untuk ponsel tertentu yang digadang-gadang jadi sumber ponsel selundupan (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Sementara itu, Janu Suryanto, Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian menyebut adanya flash sale atau obral cepat di luar negeri juga dipakai menjadi ajang mendapat produk murah bagi para penyelundup.

"Flash sale gede-gedean di Alibaba. pengusaha beli dan diselundupin [...] itu bedanya 2-3 juta," jelasnya saat ditemui di kantornya, Kamis (24/1).

Ketua Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI), Hasan Aula mengungkap harga jual ponsel selundupan ini bisa 20-30 persen lebih murah dari  harga yang mereka tawarkan ke penjual ritel. 

"Orang dagang jadi ngga bisa jualan bener, dealer (penjual ritel) selalu compare (bandingkan) dengan harga barang BM (black market). Harganya beda jauh, mereka pasti fokus jual barang yang lebih murah kan?" tuturnya saat dihubungi via telepon, Selasa (29/1).

Lambat meluncurkan

Faktor lain yang ikut mendorong masuknya produk ilegal ke tanah air menurut Hasan karena vendor ponsel di Indonesia kerap terlambat melakukan peluncuran. 

"Di Indonesia launch (peluncuran)-nya selalu telat, karena kita perlu TKDN dulu dan sebagainya. Selalu telat 1-3 bulan tergantung persiapan," jelasnya.  

Keluhan serupa diungkap Muhammad Firman, Head of PR Asus Indonesia. Menurutnya lantaran adanya aturan TKDN mereka tak bisa seenaknya langsung meluncurkan produk baru di Indonesia. Jeda peluncuran ini menurutnya kerap dimanfaatkan oknum pedagang untuk menjual terlebih dulu. 

"Masalahnya, berhubung ada peraturan TKDN, kita gak bisa main selonong boy aja jualan itu di Indonesia. Akhirnya dimanfaatkan oleh oknum pedagang, khususnya e-commerce [...] akhirnya, user (pengguna) yang jadi target market (sasaran) kita sudah pada beli dari importir gelap," paparnya saat dihubungi via pesan teks, Kamis (24/1).

APSI pun mencatat kerugian akibat peredaran ponsel ilegal untuk seluruh merek ponsel yang beredar di Indonesia mencapai 20-30 persen per bulan. Untuk merek tertentu, Hasan memperkirakan kerugiannya bisa mencapai 40 persen. 

"Kerugian bisa 20-30 persen secara nasional. Tapi brand tertentu bisa sampai 40-50 persen [...] Contoh Xiaomi, bisa jadi 40-50 persen barangnya dari BM [...] iPhone juga lumayan gede mungkin bisa 40 persen," jelas pria yang juga menjadi Group CEO Erajaya Swasembada, distributor ponsel Indonesia yang juga menjadi penyalur iPhone.

Untuk itu APSI berharap pemerintah segera menerapkan registrasi International Mobile Equipment Identity (IMEI).  (kst/evn)




BACA JUGA