Line Gelontorkan Rp2,5 Triliun Untuk Line Pay

CNN Indonesia | Rabu, 06/02/2019 18:47 WIB
Line Gelontorkan Rp2,5 Triliun Untuk Line Pay Ilustrasi (REUTERS/Toru Hanai)
Jakarta, CNN Indonesia -- Line menyuntikkan dana segar sebesar US$182 juta atau sekitar Rp2,5 triliun ke bisnis pembayaran non tunai  Line Pay. Investasi tersebut akan digunakan Line Pay untuk biaya operasional, tidak ada informasi lebih lanjut terkait alokasi dana ini. Langkah ini disinyalir diambil oleh Line untuk menutup kerugian yang dialami perusahaan sepanjang 2018.

Pada 2018, laporan keuangan Line mencatatkan kerugian Rp734,6 miliar (5,79 miliar yen Jepang). Padahal pendapatan Line naik 24 persen ke angka Rp26,2 triliun (207,18 miliar yen Jepang). Kerugian ini diduga akibat usaha Line untuk membangun konten di platform percakapan dan divisi game. Konten-konten lowongan pekerjaan, manga, dan bisnis e-commerce yang dibangun untuk menguatkan ekosistem Line.

Selain konten-konten tersebut, layanan pembayaran juga dianggap sebagai perekat antara ekosistem Line dengan layanan percakapan yang menjadi bisnis utama.


Dengan jumlah 50 juta pengguna di Jepang, Line berusaha untuk mengejar peluang layanan non tunai, sebab saat ini Jepang dikenal sebagai negara yang masih setia menggunakan uang tunai.

Selain Line Pay, Line juga memperkenalkan kartu kredit hasil kerjasama dengan Visa. Line bekerjasama dengan Tencent untuk mengincar turis Tiongkok. Tencent sendiri adalah induk perusahaan WeChat, yang menjadi salah satu pemain pembayaran nontunai terbesar di China, seperti dilansir dari TechCruch

Selain di Jepang, Line Pay juga tersedia di Thailand, Taiwan, dan Indonesia. Di Thailand, Line bekerjasama dengan penyedia Bangkok Metro, layanan MRT Bangkok. Di Taiwan, Line Pay bekerjasama dengan dua bank sebagai rekanan dan di Indonesia, Line Pay bekerjasama dengan Bank Mandiri.

Jepang, Thailand, Taiwan dan Indonesia diklaim menjadi pasar terbesar pengguna Line. Total pengguna aktif bulanan keempat negara ini diklaim mencapai 165 juta pengguna dan 40 juta pengguna Line Pay yang terdaftar. Total GMV (gross merchandise volume) mereka mencapai 55 miliar yen Jepang (Rp6,9 triliun) pada November 2017. Line Pay sebenarnya diluncurkan di lebih banyak negara, namun akhirnya sebagian ditutup seperti yang terjadi di Singapura yang berakhir Februari 2018.

Dilansir dari Techinasia, Line meniru strategi aplikasi percakapan lainnya, WeChat. WeChat juga membangun berbagai konten untuk mendukung ekosistem. Di Asia Tenggara Line Pay bakal mendapat saingan ketat dari Gojek dan Grab yang juga memiliki layanan pembayaran non tunai mereka sendiri.  

Line saat ini sangat fokus untuk merambah layanan keuangan. Bahkan Line sedang berusaha untuk meluncurkan bank digital di Jepang yang bisa memberikan pinjaman dan layanan asuransi. Line juga sedang mencoba peruntungannya di cryptocurrency. (jnp/eks)