Pada 2018, laporan keuangan Line mencatatkan kerugian Rp734,6 miliar (5,79 miliar yen Jepang). Padahal pendapatan Line naik 24 persen ke angka Rp26,2 triliun (207,18 miliar yen Jepang). Kerugian ini diduga akibat usaha Line untuk membangun konten di platform percakapan dan divisi game. Konten-konten lowongan pekerjaan, manga, dan bisnis e-commerce yang dibangun untuk menguatkan ekosistem Line.
Selain konten-konten tersebut, layanan pembayaran juga dianggap sebagai perekat antara ekosistem Line dengan layanan percakapan yang menjadi bisnis utama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Line Pay, Line juga memperkenalkan kartu kredit hasil kerjasama dengan Visa. Line bekerjasama dengan Tencent untuk mengincar turis Tiongkok. Tencent sendiri adalah induk perusahaan WeChat, yang menjadi salah satu pemain pembayaran nontunai terbesar di China, seperti dilansir dari TechCruch.
Dilansir dari Techinasia, Line meniru strategi aplikasi percakapan lainnya, WeChat. WeChat juga membangun berbagai konten untuk mendukung ekosistem. Di Asia Tenggara Line Pay bakal mendapat saingan ketat dari Gojek dan Grab yang juga memiliki layanan pembayaran non tunai mereka sendiri.
Line saat ini sangat fokus untuk merambah layanan keuangan. Bahkan Line sedang berusaha untuk meluncurkan bank digital di Jepang yang bisa memberikan pinjaman dan layanan asuransi. Line juga sedang mencoba peruntungannya di cryptocurrency. (jnp/eks)