Tarif Ojek Online Naik, Jalanan Terancam Makin Macet

CNN Indonesia | Selasa, 12/02/2019 14:53 WIB
Tarif Ojek <i>Online</i> Naik, Jalanan Terancam Makin Macet Ilustrasi ojek online. (Foto: CNN Indonesia/Harvey Darian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kenaikan tarif ojek online diprediksi akan berpengaruh pada peningkatan kemacetan. Pasalnya, peningkatan tarif ojek online akan membuat masyarakat kembali menggunakan transportasi pribadi. Dengan adanya peningkatan tarif, maka konsumen akan berangsur-angsur meninggalkan ojek online.

Survei Research Institute of Socio-Economic Development (Rised) yang melibatkan 2001 responden dari 10 provinsi di Indonesia, menunjukkan 72 persen responden menggunakan kendaraan 1-10 kali per minggu.

Ketua tim peneliti Rised Rumayya Batubara mengatakan sebelum ada ojek online, seseorang biasanya menggunakan kendaraan pribadi sebanyak 10 hingga 20 kali per minggu.


"Kini 10 trip per minggu. jadi ada pengurangan 50 persen penggunaan kendaraan pribadi. Jadi kenaikan tarif akan kembali membuat orang pakai kendaraan pribadi," kata Rumayya dalam acara peluncuran hasil survei Rised di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (11/2).

Hasil survei juga menunjukkan 8,85 persen responden tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi sejak adanya ojek online. Rumayya mengatakan akan ada 81 persen orang yang kembali menggunakan kendaraan pribadi dengan adanya kenaikan tarif ojek online.

Persentase ini merupakan perkiraan Rumayaa dari hasil akumulasi persentase responden yang tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi dan responden yang menggunakan kendaraan pribadi hingga 10 kali per miggu. Meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi akan meningkatkan volume kendaraan di ruas jalan.

"Kemungkinan akan ada 81 persen peningkatan penggunaan kendaraan pribadi kalau ada kenaikan tarif," ujar Rumayya.

Ekonom UI Fithra Faisal juga mengatakan berdasarkan studi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) kemacetan yang terjadi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) menyebabkan kerugian hingga Rp 100 triliun per tahun.

"Ojek online ini menjadi salah satu solusi untuk menangkal kerugian tersebut," ujar Fithra.

Oleh karena itu, Fithra menganjurkan agar pemerintah tidak gegabah menetapkan kenaikan ojek online. Pasalnya kenaikan tarif ini akan memberikan efek domino bagi setiap sektor, misalnya  pendapatan mitra menurun, usaha makanan dan minuman yang ditunjang oleh ojek online, bahkan bisa meningkatkan jumlah pengangguran.

"Risiko regulasi yang terlalu membatasi dan tarif yang tinggi akan mengakibatkan konsumen beralih, pendapatan pengemudi hilang, hingga kemudian menjadi beban pemerintah juga pada akhirnya," kata Fithra.

[Gambas:Video CNN] (jnp/evn)