Keenam aplikasi tersebut yakni Yelp, Duolingo, Indeed, King James Bible app, Qibla Connect, dan Muslim Pro.
Lembaga yang berbasis di Inggris ini juga menemukan jika aplikasi-aplikasi tersebut merekam informasi mengenai minat pengguna, identitas, hingga rutinitas pengguna yang dikirimkan melali Google Ads.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temuan ini hanya sebagian kecil dari hasil investigasi Privacy International yang mencatat sejumlah aplikasi populer telah menghentikan pengumpulan dan berbagi data tanpa adanya persetujuan pengguna. Tercatat dua pertiga dari aplikasi yang diuji seperti Spotify, Skyscanner dan KAYAK telah memperbaharui aplikasi mereka dan tidak lagi terhubung dengan Facebook ketika aplikasi tersebut dibuka.
Untuk menghindari data pribadi diambil, Privacy International meminta pengguna secara rutin mengatur ID iklan pada akun mereka. Pengguna diminta teliti memperhatikan izin yang diberikan kepada aplikasi dan memahami betul bagaimana aplikasi tersebut bekerja, khususnya di perangkat Android.
Selain Facebook, mengutip BGR, lembaga ini juga mencatat jika Google melakukan aksi serupa yakni mengumpulkan data pribadi pengguna melalui aplikasi, termasuk pengiklan. (din/evn)