Shopee Komentari Kasus Pembobolan 13 Juta Akun Bukalapak

CNN Indonesia | Sabtu, 23/03/2019 08:04 WIB
Shopee Komentari Kasus Pembobolan 13 Juta Akun Bukalapak Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Country brand manager Shopee Indonesia Rezky Yanuar mengomentari kasus pembobolan 13juta akun yang menyerang Bukalapak beberapa saat lalu.

Rezky mengatakan kebobolan data yang dialami Bukalapak merupakan hal yang serius. Pasalnya dalam akun tersebut terdapat berbagai informasi penting seperti nomor rekening, alamat rumah, hingga alamat e-mail.

"Serangan dari Pakistan kami sendiri tidak kena. Saat pembobolan diumumkan itu langsung melakukan pengecekan regional. Karena hal ini sudah merupakan hal serius dan keamanan data pribadi," ujar Rezky usai acara peluncuran program "Kreasi Nusantara dari Lokal untuk Global" di SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (21/3).


Rezky menjelaskan Shopee  memiliki tim yang didedikasikan untuk menjaga keamanan siber platform selama 24 jam. Ia berpendapat untuk menjaga keamanan siber, konsumen juga harus siap menjaga keamanannya sendiri dari serangan peretas.

Serangan peretas ini bisa berupa malware atau phising yang sudah marak terjadi. Selain itu, Rezky juga menyarankan agar pengguna tidak sembarangan menyebarkan data-data pribadi kepada oknum-oknum tertentu.

Untuk mencegah serangan peretas, Rizky mengatakan ada dua hal yang penting. Pertama adalah keamanan platform dan keamanan pribadi konsumen.

"Dari sisi pengambilan data yang sifatnya lebih ke consumer to consumer (C2C). Ini yang kadang-kadang perlu diingatkan para konsumen untuk sering melakukan pengamanan untuk akunnya," kata Rezky.

Dari keamanan platform, Rezky meyakinkan bahwa Shopee telah memiliki lapisan keamanan wahid untuk menangkis serangan peretas. Ia mengatakan jenis serangan yang dialami Bukalapak adalah jenis serangan ke sistem platform.

Rezky mengakui Shopee memiliki gerbang akses yang lebih banyak yang bisa dimanfaatkan peretas. Pasalnya Shopee tidak hanya hadir di Indonesia tapi juga hadir di Taiwan, Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Filipina.

"Kalau peretasan yang sana itu kan pengambilan masuk ke dalam. Kalau kami sudah mempersiapkan supaya kita punya firewall yang cukup kuat," imbuhnya. (jnp/evn)