Kelihaian ISIS Tebar Jejak Digital untuk Bentuk Kekhalifahan

CNN Indonesia | Sabtu, 23/03/2019 16:51 WIB
Kelihaian ISIS Tebar Jejak Digital untuk Bentuk Kekhalifahan ISIS kerap menggunakan video dan konten yang disebar lewat media sosial seperti Twitter dan Youtube untuk menyebar teror dan ide kekhalifahan mereka. (REUTERS/Dado Ruvic)
Jakarta, CNN Indonesia -- ISIS tercatat sebagai kelompok jihad yang dianggap paling lihai menggunakan media sosial untuk menyebarkan ideologi mereka. Mereka pun dianggap memiliki jejak digital terbanyak.

Sepanjang 2014-2015 ketika kelompok ini berhasil menduduki sebagian besar Irak dan Suriah, mereka kerap membanjiri media sosial dengan video yang menggambarkan perjuangan para pejuang negara islam itu. Mereka juga kerap membuat video ketika mereka mengeksekusi tentara kafir dan warga sipil.

Mereka sempat membuat video ketika seorang tentara Suriah dihancurkan dengan sebuah tank, seorang pilot Yordania dibakar hidup-hidup dalam kerangkeng, pemenggalan, dan banyak rekaman kekejaman ISIS lainnya akan tetap menjadi bagian dari kisah tragis kemanusiaan.


"(Ingatan) itu jelas akan melekat dengan kita, sama seperti bagaimana Al-Qaeda akan terus bersama kita, bahkan setelah Osama bin Laden terbunuh," jelas Charlie Winter, peneliti senior di Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi (ICSR) di King's College London kepada AFP.

Saat ini, mesin propaganda yang dulu sempat sangat canggih itu telah menjadi puing-puing. Meski kekuasaan mereka kini tumbang, namun jejak video-video eksekusi mereka ini akan terus menghantui gambaran dunia dan menjadi gambaran bagaimana menebar teror lewat media ini bisa menjadi begitu efektif, lanjutnya.

Kelompok ini bukan yang pertama menggunakan media digital sebagai alat propaganda mereka. Cara ini sempat digunakan oleh Al-Qaeda ketika mereka menahan jurnalis AS Daniel Pearl di Karachi pada 2002. Para pedagang kartel obat-obatan di Meksiko juga kerap membagikan video pemenggalan kepala yang mereka lakukan.
Kelihaian ISIS Tebar Jejak Digital untuk Bentuk KekhalifahanIlustrasi. Tentara gabungan AS dan Suriah berhasil membobol pertahanan terakhir ISIS dan menghancurkan kelompok jihadis itu.  (AP Photo/Andrea Rosa)

Lihai bermedsos

Namun, ISIS dianggap sebagai kelompok yang berhasil mempopulerkan grafis teror video. Mereka membuat klip bergaya Hollywood. Mereka juga memanfaatkan banyak media sosial seperti Facebook, Twitter, YouTube serta Telegram untuk meraih banyak pengguna internet.

"ISIS juga banyak menginvestasikan waktu, energi, dan sumber daya manusia untuk memproduksi propaganda ini lebih dari kelompok lain sebelumnya," jelas Winter.

"Mereka adalah pionir dalam hal meningkatkan dan mengindustrialisasi produksi propaganda."

Analis menyebut kalau kelompok ini sangat andal memanfaatkan media sosial untuk memupuk radikalisme bagi ribuan pemuda Muslim di seluruh dunia. Mereka melakukan pencitraan sebagai pasukan yang tak terkalahkan di medan perang.

Untuk memperluas jangkauan penontonnya, mereka kerap mendompleng tagar-tagar yang tengah populer di media sosial. Contohnya mereka ikut mengisi konten ketika Piala Dunia 2014 digelar, atau ketika Justin Bieber sempat menjadi tren tagar populer.

Disisi lain, ISIS juga memproduksi kehidupan kekhalifahan yang lebih lembut. Namun, analis menganggap bahwa video dan konten web yang diproduksi ISIS adalah video utopis belaka.

"Mereka mencoba menunjukkan bahwa mereka membangun negara utopia, masyarakat utopia," jelas Marc Hecker, ahli kebijakan luar negeri di Institur Perancis untuk Masalah Internasional kepada AFP.
Kelihaian ISIS Tebar Jejak Digital untuk Bentuk KekhalifahanAnak muda kerap menjadi garda terdepan ISIS untuk memproduksi, menyebar, dan mereplika ideologi negara kekhalifahan mereka (INTERNET REUTERS/Dado Ruvic)

Pemuda, lini terdepan propaganda

Para pejuang ISIS juga kerap menjadi garda propaganda terdepan. Mereka kerap melakukan swafoto dengan seringai dan menggengam senapan di dada.

Direktur Studi Keamanan Internasional di RUSI Raffaello Pantucci menyebut kalau kegiatan komunikasi eksternal ISIS dilakukan oleh anak-anak berusia dua puluh tahunan. Dalam pekerjaannya mereka melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan di rumah. Hal ini seperti dilakukan seorang peretas muda asal Inggris yang tewas di Irak, Junaid Hussain.

"Tidak ada yang spesial yang mereka lakukan," jelas Pantucci.

Namun, kegiatan media sosial mereka inilah yang kemudian disasar oleh AS. Dalam serangan udaranya, AS membunuh juru bicara ISIS Abu Mohamed al-Adnani di Suriah utara pada Agustus 2016. Serangan lain ditujukan pada pusat medianya di kota Mosul di Irak.

Di bawah tekanan pemerintahan Barat, Facebook dan Twitter juga meredam konten-konten yang mempropagandakan para jihadis. Mereka juga membuat filter untuk video kekerasan yang dibuat ISIS dan kelompok teror lain, sehingga mereka kesulitan membuat video tersebut meraih lebih banyak massa.

Belakangan, ISIS menggunakan dark web dan Telegram untuk mendorong para pendukung mereka agar melakukan serangan mandiri. Dark web adalah bagian dari internet yang mesti masuk dengan cara khusus dan hampir tidak mungkin diregulasi.

Sebuah penelitian pada November dari Pusat Studi Strategis dan Internasional, kelompok cendikiawan berbasis di Washington menyebut kalau kelompok itu mempertahankan kekhalifahan digital untuk mendukung pemberontakan di negara-negara lain.

Winter menganggap bahwa cara propaganda ISIS ini bisa memberi dampak pada bagaimana pemberontakan jihadis secara global akan dilakukan pada tahun-tahun mendatang. (eks/eks)