Facebook Blokir Akun Ujaran Kebencian di Inggris dan Rumania

CNN Indonesia | Minggu, 10/03/2019 09:18 WIB
Facebook Blokir Akun Ujaran Kebencian di Inggris dan Rumania Ilustrasi (CNN Indonesia/Harvey Darian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Facebook melaporkan bahwa mereka telah memblokir 137 akun palsu, grup, serta Instagram di Inggris, serta 31 akun di Romania karena terlibat ujaran kebencian dan komentar-komentar yang memecah-belah.

Nathaniel Gleicher, kepala keamanan siber Facebook, menulis dalam blognya, bahwa orang-orang yang diblokir mengidentifikasikan diri mereka sebagai penganut politik sayap kanan radikal, maupun aktivis anti sayap kanan.

Berdasarkan Nathaniel, halaman-halaman dengan nama seperti "Anti Far Right Extremist". "Atheists Research Centre", dan "Politicalised", telah mengundang sebanyak 175 ribu pengikut di Facebook, serta 4.500 di Instagram.

Sebelumnya, Facebook juga sempat menggugat perusahaan dan warga China yang berbisnis jualan akun palsu.


Berdasarkan DFR (Digital Forensic Research) sebuah tim forensik online kecil, beberapa dari halaman yang diblokir memiliki konten bernada mengancam terhadap Tommy Robinson, mantan pemimpin English Defense League. Sebuah grup ekstremis sayap kanan. Dfr sendiri bekerja sama dengan Facebook untuk memperkuat investigasi media sosial terhadap interfensi asing.

"Kami secara berkala bekerja untuk menghentikan aktivitas seperti ini, karena kami tidak mau servis kami digunakan untuk memanipulasi orang-orang," Kata Gleicher. "Kami memblokir halaman dan akun berdasarkan tingkah laku mereka. Pada kasus ini, orang-orang dibelakang perkumpulan ini berkoordinasi dengan satu sama lain, dan menggunakan akun palsu untuk mengintripertasikan dirinya secara salah. Itulah dasar tindakan kami,"

Facebook, Twitter, serta Alphabet Inc berada di bawah tekanan regulasi di seluruh dunia untuk melawan penyebaran misinformasi yang mencederai pemilihan suara dengan cara menggoreng isu, atau mendukung propaganda kampanye.

Bulan lalu, Facebook telah memblokir ratusan akun, laman, serta grup dari Indonesia, yang menciptakan jaringannya setelah mereka menemukan bahwa akun-akun tersebut terhubung dengan grup penyebar hate speech dan berita palsu.

Kamis lalu, Facebook mengatakan bahwa orang-orang di belakang akun ini kerapkali mengunggah berita politik lokal, termasuk topik-topik seperti imigrasi, free speech, isu LGBT, politik sayap kanan, serta isu antara India dan Pakistan, serta isu agama, termasuk Islam dan Kristen.

Pemblokiran ini datang setelah pemimpin Facebook, Mark Zuckerberg, merilis memo yang menyatakan bahwa perusahaannya menjadi "jaringan sosial dengan fokus privasi", dengan menekankan pesan langsung, serta enkripsi ujung-ke-ujung melebihi pembagian ke publik. Gleicher mengakui bahwa pergeseran ini dapat mempersulit penegakan aturan lebih sulit kedepannya.

"Tentunya bagian yang anda lihat pada catatan Mark membuat kami berpikir bagaimana kami bergerak menjadi media yang berfokus pada privasi. Kami sedang mengerjakannya, dan akan mendiskusikan lebih lanjut," kata Gleicher. (lea/eks)