"Akun akan sulit diambil alih kalau penggunanya telah mengikuti langkah pengamanan yang baik [...] kalau sudah jadi figur publik artinya akun kita pasti jadi incaran untuk diretas. Maka harusnya diamankan dengan sebaik-baiknya supaya sulit diretas," jelasnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (25/3).
Hal ini diungkap Alfons menanggapi dugaan kasus peretasan akun Twitter Haikal Hassan Baras yang menjadi bagian dari tim pemenangan Prabowo Subiyanto dan Sandiaga Uno.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, pakar keamanan siber dari ESET, Yudhi Kukuh menyebut pembajakan ini mungkin terjadi karena pengguna tidak mengaktifkan fitur pengamanan dua faktor (two factor authentification/TFA).
Opsi keamanan dua faktor yang mesti diaktifkan sehingga Twitter akan mengirim pemberitahuan ke nomor atau surel pengguna jika ada usaha penggantian kata kunci akun tersebut (Screenshot via Twitter) |
"Kalau tidak di centang yah salah pengguna dong. Moso yang direpotkan Twitternya," lanjutnya lagi.
Alfons pun menekankan jika sering digunakan untuk hal yang penting, jangan sampai nomor ponsel pengguna diambil alih orang.
"(Misal) pakai nomor prabayar lalu tidak diperpanjang sampai nomor di daur ulang. (Ini) bisa digunakan oleh peretas yang membeli nomor tersebut untuk menyetujui penggantian password," tuturnya.
Lihat juga:Risiko Ketika Data Pribadi Dicuri |
"Ada kemungkinan pass (kata kunci) email sama dengan socmed (media sosial lain). Saran, terapkan TFA. Password beda-beda untuk tiap email dan socmed," terangnya, saat dihubungi via pesan singkat, Senin (25/3).
Kukuh pun menyarankan jika pengguna masuk akun sosial media lewat peramban (browser) bisa menggunakan secure browser untuk menghindari pencurian kata kunci dengan membaca kibor atau keylogger. (eks/eks)
Opsi keamanan dua faktor yang mesti diaktifkan sehingga Twitter akan mengirim pemberitahuan ke nomor atau surel pengguna jika ada usaha penggantian kata kunci akun tersebut (Screenshot via Twitter)