Peristiwa meteor jatuh dan meledak di Bumi tergolong peristiwa langka yang hanya terjadi dua hingga tiga kali tiap 100 tahun, seperti diungkap Lindley Johnson, petugas pertahanan planet dari NASA saat melaporkan peristiwa ini di Konferensi Ilmu Bulan dan Planet ke-50, di Woodlands, dekat Houston, Texas.
Meteor ini memasuki atmosfer dengan kemiringan 7 derajat dan kecepatan 32 kilometer perdetik alias 115200 kilometer perjam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Menguak Misteri Umur Bumi dan Semesta |
"(Karena meledak di) Selat Bering sehingga efeknya tidak sama dengan yang tampak di berita," tutur Johnson, seperti dikutip BBC.
"Tidak perlu (meteor) yang sangat besar untuk menyebabkan ledakan besar," jelas Ed Lu, mantan astronot dan menjadi salah satu pendiri badan nonprofit pertahanan planet B612, seperti ditulis Popular Science.
Sebab, meteor berdiameter dalam hitungan meter saja sudah bisa menyebabkan ledakan 10 kali lebih besar dari bom di Hiroshima.
Lihat juga:NWS: Kemungkinan Ada Meteorit Jatuh di Kuba |
Meteor diperkirakan memasuki bumi sekitar siang hari waktu setempat menuju Laut Bering yang memisahkan Rusia dan Alaska. Satelit militer berhasil merekam ledakan itu tahun lalu. NASA mendapat pemberitahuan peristiwa itu lewat Angkatan Udara AS.
Batuan itu meledak tak jauh dari jalur penerbangan pesawat komersil antara Amerika Utara dan Asia. Sehingga peneliti saat ini melakukan pengecekan kepada berbagai maskapai untuk mengetahui apakah ada laporan pandangan mata mengenai peristiwa ini. (eks/eks)