Peneliti Temukan 540 Juta Akun Facebook Bocor ke Publik

CNN Indonesia | Jumat, 05/04/2019 04:56 WIB
Peneliti Temukan 540 Juta Akun Facebook Bocor ke Publik Ilustrasi Facebook. (Foto: REUTERS/Eric Gaillard)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti keamanan siber UpGuard menemukan 540 juta informasi data pengguna Facebook tersimpan di server publik. Data yang disimpan ini ini diekspos dari dua perusahaan pihak ketiga.

Pertama, data pengguna Facebook diketahui berasal dari perusahaan media digital asal Meksiko, Cultura Colectiva dengan lebih dari 540 juta data pengguna. Informasi yang tersimpan termasuk komentar, likes, reaksi, nama akun, dan informasi lain di dalam server Amazon yang bisa diakses siapa saja.

Cultura Colectiva mengatakan semua informasi yang dikumpulkan berasal dari interaksi pengguna Facebook dengan aplikasi pihak ketiga. Perusahaan mengatakan informasi serupa juga bisa diakses publik yang menelusuri laman-laman tersebut.


Kumpulan data kedua yakni dari aplikasi At The Pool milik pengembang asal California, AS. Ada 22 ribu informasi sensitif berupa nama, kata sandi, daftar teman, interest, foto keanggotaan grup, alamat surel, serta lokasi check-in pengguna Facebook.

"Data sensitif maupun pribadi, seperti surel atau kata sandi bisa diakses karena kami tidak memiliki akses ke data semacam itu dan bisa membahayakan privasi serta keamanan para pengguna," tulis Cultura Colectiva dalam keterangan resmi.

Tidak diketahui secara pasti berapa lama data tersebut bisa diakses bebas oleh publik.

Menanggapi hal itu, Facebook mengatakan pihaknya telah mengontak Amazon untuk menghapus data-data tersebut.

"Kebijakan Facebook melarang menyimpan informasi di basis data publik," ungkap juru bicara perusahaan dalam keterangan resmi seperti dilansir Reuters.

"Setelah diberahu tentang masalah ini, kami bekerja sama dengan Amazon untuk menarik database ini. Kami berkomitmen untuk bekerja dengan pengembang di platform kami untuk melindungi data pengguna."

Perusahaan milik Mark Zuckerberg ini mengklaim pihaknya tidak menemukan adanya bukti penyalahgunaan data-data tersebut. Namun, Facebook memastikan akan melakukan investigasi terkait kasus ini. (Reuters/evn)